Minggu, 26 November 2023

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM

 


A.    Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan dalam bahasa Latin disebut  educare, secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia pertanian dikenal istilah educare yangberarti menyuburkan; mengolah tanah menjadi subur agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Dengan demikian, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha mempersiapkan peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi dalam menjalani kehidupannya.

Selanjutnya yaitu kata karakter, dalam kamus Poewadaminta sebagaimana dikutip oleh Abdul Madjid dan Dian Andayani, karakter diartikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat, akhlak, dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Adapun menurut Kamus Populer Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai wata, tabi’at, Pembawaan, kebiasaan. Sedangkan secara terminologi, istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari factor kehidupannya sendiri. Karaker adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.

Pendidikan karakter merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam memfasilitasi dan membantu peserta didik untuk mengetahui hal-hal yang baik dan luhur, mencintainya, memiliki kompetensi intelektual, berpenampilan menarik, dan memiliki kemauan yang keras untuk memperjuangkan kebaikan dan keluhuran serta dapat mengambil keputusan secara bijak, sehingga ia mampu memberikan kontribusi positif dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, hakikat pendidikan karakter adalah pendidikan nilai yang membantu dan memfasilitasi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang manjadi manusia paripurna (insan kamil).

Secara operasional pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai standar kompetensi luliusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan


menginternalisasi serta mempersonalisaisi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia, sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari.[1]

 

B.     Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Pendidikan karakter pertama kali diperoleh oleh anak ada di dalam lingkungan keluarga, orang tua menjadi pendidik karakter anak di dalam keluarga. Sesudah itu, sekolah dapat memainkan peran signifikan dalam pengembangan karakter, sebagai kelanjutanpengembangan karakter yang diterima anak dari keluarga. Sekolah mendukung iswa dalam seluruh kehidupan pendidikan yang akan diperoleh dan dialami. Sekolah berusaha menciptakan lingkungan sehingga siswa merasa aman, nyaman, diterima dan dididik akan prilaku bertanggung jawab, teliti, yang nantinya akan menjadi bagian  masyarakat yang produktif. Untuk mencapai serta memfokuskan pada pengembangan dan peningkatan pendidikan karakter di sekolah, salah satu ruang atau basis terselenggaranya proses pembelajaran karakter adalah basis kelas.

Kelas merupakan salah satu bagian dari seluruh proses kehidupan pendidikan maupun pembelajaran yang ada di sekolah. Secara tradisional di dalam kelas terjadi pembelajaran, baik oleh siswa maupun guru. Meskipun demikian, ketika sekolah ingin mengembangkan karakter siswanya, maka seluruh lingkungan sekolah dapat dijadikan sebuah kelas itu sendiri sebagai sarana pengembangan karakter.  Ruang kelas bukan hanya sebagai ruang mendapat pengetahuan atau prestasi akademis, tetapi juga merupakan ruang pengembangan dan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter yang dikembangkan dalam kelas sama penting dan berguna seperti mata pelajaran lainnya, karena bila mengutamakan pengetahuan tidak akan menjamin hadirnya pribadi yang baik untuk  generasi berikutnya. Keraguan atau kecurigaan akan adanya hambatan yang akan dialami siswa dalam meraih keberhasilan prestasi secara akademis, yang diakibatkan oleh adanya perhatian yang seimbang kepada karakter, tidaklah tepat. Justru dengan adanya pendidikan karakter yang mengimplementasikan dalam babsis kelas mempengaruhi seluruh wilayah pembelajaran di dalam kelas serta semakin menolong siswa lebih fokus dan menyelesaikan pelajaran dan memperoleh hasil dengan baik. Selain itu juga, pendidikan karakter berbasis kelas menolong siswa berinteraksi dengan para guru dan siswa lainnya seharusnya, menciptakan kelas menjadi lingkungan yang semakin baik dan berkarakter.[2]

Dengan mengintegrasikan atau memadukan karakter pada seluruh dimensi proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, diharapkan mencapai suatu keseimbangan. Pendidikan karakter berbasis kelas mengubah proses pembelajaran yang tadinya lebih banyak berorientasi atau memfokuskan pada mata pelajaran, akademis maupun prestasi, sekarang menjadi sama berorientasi atau memberi  perhatian yang sama dengan karakter. Pertumbuhan karakter dan pertumbuhan karakter dan pertumbuhan akademis yang  berlangsung dalam kelas ibarat dua sisi sebuh koin, karena generasi berikutnya dari bangsa ini dapat kita lihat pada wajah-wajah siswa yang ada dan hadir dalam kelas, serta menjalani kehidupan dan berinteraksi di dunia. Pendidikan karakter berbasis kelas tidak hanya menolong siswa berhasil di dalam kelas tetapi juga dalam kehidupan yang akan mereka menjalani di luar kelas. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter berbasis tergantung dengan bagaimana perspektif dan peran guru dalam merancang kelas menjadi sebuah kelas yang terbuka positif, kelas yang bermuatan karakter.

1.      Peran Guru dalam Pendidikan karakter Berbasis Kelas.

Peran guru merupakan salah satu strategi kuci untuk mengembangkan pendidikan karakter berbasis kelas. Guru semestinya menciptakan kondisi kelas dengan nilai-nilai karakter yang dipraktikkan, sehingga siswa merasa aman dan nyaman meniru nilai-nilai yang dipraktikkan tersebut. Guru berperan menyatukan nilai-nilai pendidikan karakter dalan rencana pelajaran sehari-hari dan mendemonstrasikannya pada bergam situasi dan kondisi, untuk menghindari dari terjadi pengulangan dari tahun ke tahun, secara berkelanjutan guru merevisi pelajaran mereka untuk tetap menjaga konsistensi nilai-nilai karakter bermakna dan relevan bagi siswa.  Ada Sembilan strategi untuk guru dalam mengembangkan karakter berbasis kelas, yaitu:[3]

a.       Guru sebagai caregiver,  moral model, dan moral mentor.

Di dalam kelas, seperti di dalam keluarga, guru menjadi role model bagi siswa sepanjang hari, setiap hari. Dampak moral guru bagi siswa sangat tergantung pada kualitas relasi guru dengan siswa. Dalam menjalin relasi dengan siswa, seorang guru dapat menggunakan pengaruh moral positif pada tiga cara, yaitu menghargai dan peduli kepada siswa, menjadi teladan yang baik, serta memberikan tuntunan moral.

b.      Membangun sebuah komunitas kelas yang peduli.

Guru dapat mengambil langkah-langkah untuk membangun sebuah komunitas kelas yang peduli dengan monolong siswa; mengenal setiap siswa sebagai pribadi, menghargai, perhatian/peduli, dan menguatkan satu dengan lain, dan merasa dihargai sebagai anggota dalam kelompok. Seorang siswa memounyai dua atau tiga pelajaran  tentang kebaikan, kemungkinan menjadi baik; seorang siswa yang memberlakukan kebaikan setiap saat akan memperoleh nilai karakter tersebut.

c.       Disiplin moral

Disiplin semestinya menolong siswa dalam mengembangkan moral, disiplin diri, dan menghormati orang lain. Ketika aturan-aturan diterapkan semestinya siswa melihat standar moral di belakang aturan-aturan tersebut. Perlu dijelaskan kepada siswa bahwa mengikuti aturan itu merupakan hal benar yang dilakukan karena tersebut menghargai hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan yang lain.

d.      Membangun lingkungan kelas yang demokratis.

Dalam mewujudkan hal tersebut, berarti melibatkan siswa lebih komitmen dan berbagi dalam mengambil keputusan sehingga meningkatkan tanggungjawab mereka menjadikan kelas sebuah tempat yang baik untuk belajar. Didalam membangun lingkungan kelas yang demokratis, keahlian guru perlu dilatih terutama melalui sifat meyakinkan dan tanggungjawab organisasi didalam memetakan pertahanan kondisi demokratis.

e.       Mengajarkan nilai melaui kurikulum/mata pelajaran.

Guru seharusnya melihat kurikulum/mata pelajaran dan bertanya: “pertanyaan-pertanyaan moral dan pelajaran karakter apa yang sudah ada di dalam mata pelajaran yang saya ajarkan? Bagaimana saya dapat menyusun pertanyaan-pertanyaan dan pelajaran tersebut menjadi penting bagi siswa saya?”

f.        Belajar kerjasama

Belajar kerja sama perlu dikembangkan di dalam pembelajaran, khususnya yang terkait dengan kompetensi karakter social dan moral. Kebiasaan-kebiasaan mempertimbangkan perspektif orang lain, kemampuan bekerja sebagai sebuah tim, serta menghargai keberadaan dan situasi orang lain diberikan bersamaan saat siswa mempelajari materi akademis. Beberapa studi mengatakan bahwa pelajaran yang berbentuk kerjasama dalam kelompok 3 atau 4 orang akan meningkatkan pencapaian dan memperkuat empati, persahabatan dan apresiasi satu dengan yang lainnya.

g.      The Conscience of craft

Apa yang kita kerjakan tentu akan berdampak bagi orang lain. Salah satu yang paling penting adalah mendengarkan suara hati untuk melakukan hal yang baik. Guru menolong siswa mengembangkan karakter dengan menentukan, contoh tugas dan tanggungjawab melalui pengajaran mereka, sekaligus mengkombinasikan harapn yang tinggi disertai dengan dukungan yang tinggi pula, serta menyediakan sebuah kurikulum yang mempertemukan seluruh siswa dalam kelas, dan memberikan tugas yang bermakna.

h.      Refleksi etis

Ini merupakan salah satu strategi mengembangkan kualitas sisi kognitif karakter. Tujuan khususnya adalah mengajarkan siswa tentang apa itu nilai, bagaimana memperaktikkan kebiasaan nilai karakter yang dilakukan akan menuntun kehidupan siswa, serta memberikan penjelasan untuk setiap alasan pengembangan karakter.

i.        Mengajarkan penyelesaikan konflik

Mengajarkan siswa tentang bagaimana menyelesaikan konflik tanpa paksaan atau intimidasi merupakan bagian penting dari pendidikan karakter untuk dua alasan. (a) konflik-konflik yang tidak diselesaikan dengan adil akan mencegah atau mengikis sebuah komunitas moral yang ada di dalam kelas, dan (b) tanpa memperlengkapi soswa menyelesaikan konflik, maka siswa akan gagal dalam berelasi interpersonal dan akan berkontribusi terhadap kekerasan di sekolah dan masyarakat.

 

Selain mengembangkan kehidupan moral di dalam kelas yang dilakukan guru, pendekatan komprehensif yang dapat dilakukan sekolah sebagai keseluruhan adalah:[4]

a.       Mengembangkan rasa peduli melalui kelas, menggunakan model pasif untuk menginspirasi perilaku altruistic dan menyediakan kesempata-kesempatan di setiap tingkat pendidikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunitas sekolah.

b.      Menciptakan sebuah kultur moral  yang positif disekolah

c.       Melibatkan orang tua dan komunitas dalam pendidikan karakter.

 

2.      Peran Siswa dalam Pendidikan Berbasis Kelas

Selain guru yang memiliki peran dalam pendidikan karakter berbasis kelas, siswa juga dapat berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis kelas bagi teman-teman sebaya di kelas. Oleh karena itu, ada dua peran yang dapat dilakukan oleh siswa yaitu:

a.       Siswa sebagai role model

Lingkungan pembelajaran di dalam kelas memungkinkan munculnya   model-model yang saling bersinggungan atau berkonflik, dan pola-pola prilaku yang disruptif. Oleh karena itu, guru mempersiapkan kepemimpinan siswa serta membagikan kepemimpinan kepada siswa.

b.      Siswa sebgai controller

Siswa memiliki pengendalian terhadap karakter individual maupun siswa lainnya. Rasa tanggungjawab menjadi hal yang dibutuhkan bila ingin memperoleh hasil atau dampak yang positif. Rasa tanggungjawab ini akan muncul ketika siswa diberikan sebuah situasi yang membutuhkan tanggungjawab. Rasa tanggungjawab ini mungkin terasa lambat, namun memiliki dampak yang lama. Siswa dapat mengendalikan diri mereka melalui keinginan untuk terus belajar. Betul bahwa tujuan utama siswa di sekolah adalah belajar, tetapi harus memberi perhatian, menemukan rasa tanggungjawab tersebut, dan meniru contoh-contoh tauladan yang mereka lihat di kelas. Siswa juga dapat mengendalikan prilaku siswa lain dengan dua cara. Pertama, siswa- siswa menunjukkan model prilaku karakter yang dapat ditiru oleh siswa-siswa yang lain. Kedua, siswa-siswa menggunakan tekanan kepada siswa-siswa yang lain supaya sesuai dengan kelompok. Tekanan-tekanan itu bersifat halus dan transparan.

 

C.    Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

Salah satu model implementasi pendidikan karakter adalah berbasis kultur sekolah. Pemahaman tentang makna kultur sekolah sangat beragam. Ada yang berpendapat bahwa kultur sekolah itu berisi keyakinan, sikap, dan prilaku. Pendapat lain mengungkapkan bahwa kultur sekolah itu terdiri dari harapan-harapan, nilai-nilai dan pola-pola yang dibagikan yang mendefinisikan siapa kita dan bagaimana kita memperlakukan satu dengan yang lain dan bagaimana kita melakukan pekerjaan/karya/perbuatan kita. Kultur sekolah merupakan sebuah daya yang bertenaga, yang mampu mempengaruhi bagaimana orang berfikir, merasa, berkeyakinan dan bertindak atau bekerja.

Dengan demikian, pendidikan berbasis kultur sisekolah bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran atau pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran atau pendidikan yang dapat menolong setiap individu bertumbuh dewasa dalam keyakinan, lingkungan, sebab kultur itu  merupakan cerminan cara berfikir dan bekerja dan juga bentuk sesungguhnya dari prilaku makhluk tuhan.[5] Mendidik karakter berbasis kultur sekolah tidak hanya soal dalam hal aturan-aturan sekolah atau hal-hal yang biasa dilakukan secara terjadwal/terencana. Mendidik karakter siswa melalui basis kultur di sekolah berarti mendidik keyakinan, sikap, perbuatan, yang nantinya akan mengembangkan manusia-manusia yang berbudaya.

1.      Implementasi Pendidikan Karakter berbasis Kultur Sekolah

Ketika kebudayaan menjadi bagian penting, selain pendidikan dan pengajaran, dalam lembaga pendidikan tau sekolah, maka pada saat itu juga sekolah menjadi sebuah lembaga kebudayaan, sebagai sebuah alat transmisi kebudayaan, sekolah menjadi sebuah komunitas budaya. Kondisi menjadi satu hal yang dibutuhkan ketika pendidikan karakter berbasis kultur sekolah ingin diimplementasikan. Menurut Character Education Partnership ada tiga kondisi dasar yang diyakini mampu meningkatkan kultur sekolah, yaitu:

a.       Sekolah membuthkan ukuran-ukuran keberhasilan dan wilayah-wilayah untuk kemajuan yang melampaui batas-batas nilai sebuah tes.

b.      Sebuah pemahaman komprehensif tentang kultur sekolah semestinya dimiliki oleh setiap guru.

c.       Sekolah membutuhkan media atau sarana untuk membangun dan menilai kultur sekolah, dan harus akuntabel untuk kepentingan kuktur sekolah.

selain kondisi dasar yang dibutuhkan, proses merupakan salah satu fokus dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Dalam tulisannya, Cece Rahmat mengatakan bahwa ada beberapa proses yang dilakukan sekolah sebagai lembaga yang memiliki misi kebudayaan, yaitu:

1.      Pewarisan kebudayaan.

2.      Membantu individu memilih peran social dan mengajari untuk melakukan peran tersebut.

3.      Memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkuup kebudayaan yang lebih luas.

4.      Harus menjadi sumber inovasi sosial.

2.      Jenis-Jenis Kultur Sekolah

Beberapa ahli membedakan jenis kultur sekolah yaitu kultur sekolah yang individualistis dan kolaboratif. Kultur individualistis terbentuk setelah bertahun-tahun mengajar dalam keterpisahan antara guru yang satu dengan guru yang lain, dan sekolah yang penuh yang asing satu dengna yang lain. Tidak ada relasi yang terbangun antara guru dengan guru yang lain. Kultur ini memiliki pandangan konservatif dan selalu menolak perubahan dan inovasi. Sedangkan kultur kolaborasi menganggap bahwa mengajar bukannlah suatu yang mudah dan guru baik tidak pernah berhenti untuk belajar mengajar. Kultur kolaborasi ini memiliki keyanikan akan terjadinya perubahan dan lebih mengedepankan inovasi. Dalam perspektif kultur ini, memberi dan menerima bantuan dipandang sebagai hal positif, dan bukan sebagai sebuah kelemahan.

Selain itu, kultur yang terbentuk di sekolah yaitu kultur positif dan kultur toxic. Disebut kultur positif sebuah sekolah ketika seluruh warga sekolah merasakan kenyamanan, positif dan penuh keyakinan serta harapan.  Sebaliknya dalam kultur Toxic, sekolah biasanya terbentuk serta ditemukan dalam suasana depresi dan frustasi, baik guru maupun warga sekolah lainnya tidak yakin serta tidak dapat membawa perubahan serta tidak membawa peningkatan sekolah ke level yang lebih tinggi, saling menyalahkan dan sebagainya. Bila dikaitkan dengan pemahaman kultur sekolah, maka ada tiga kultur sekolah yaitu kultur efikasi, (misalnya pengalaman keahlian, pengalaman delegasi, persuai sosial dan bangunan emosional), kultur percaya, yang pertama kali dalam kultur percaya ini adalah para guru harus percaya kepada kepada kepala sekolahnya, dan terakhir yaitu kultur akademis, otimisme merupakan payung yang menyatukan efikasi dan  percaya dengan tekanan akademis. Dengan demikian, kultur positif serta kultur kolaborasi bersinergi dengan kultur efikasi, kultur trust/percaya dan optimisme akan menghasilkan sebuah kultur sekolah yang mempu mengimplementasikan pendidikan karakter.[6]

 

3.      Peran Pendidik dalam Pendidikan Berbasis Kultur di Sekolah

Secara umumdiketahui bahwa orangtua merupakan pendidik karakter, termasuk kultur yang pertama dalam diri seorang anak. Namun perlu diakui bahwa keluarga membutuhkan lembaga pendidikan, dan lembaga pendidikan membuthkan keluarga dalam melaksanakan visi dan misinya. Lembaga di sekolah merupakan perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga. Keduanya saling mengisi untuk mendidik generasi penerus miliki kultur yang baik. Betul bahwa pendidikan karakter di sekolah merupakan tanggungjawab seluruh warga sekolah. Setiap warga disekolah tidak terlepas dari kultur sekolah itu sendiri sekaligus mempengaruhi dalam membangun kultur sekolah. Namun, tanggungjawab yang lebih besar berada di kepala sekolah dan guru.

Kepala sekolah merupakan sosok yang berperan menjadi model dalam membangun kultur sekolah. Kepala sekolah berperan mengkomunikasikan nilai-nilai inti yang berlaku dalam pekerjaan setiap hari. Para guru berperan memperkuat nilai-nilai tersebut dalam tindakan-tindakan dan kata-kata. Bahkan para guru seperti kebanyakan organisasi lainnya, menyelasarkan keyakinan dan prilaku selaras dengan struktur, kebijakan dan tradisi di lingkungan sekolah.

 

D.    Pendidikan karakter Berbasis Komunitas

Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak, baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Lembaga pendidikan atau sekolah adalah salah satu tempat dimana anak didik untuk mengembangkan karakter yang baik di dalam dirinya. Artinya, pengembangan karakter anak tidak cukup dititikberatkan pada satu bagian saja, namun juga secara menyeluruh. Disinilah pendidikan berbasis komunitas diperlukan.

Komunitas adalah suatu ruang lingkup yang penting bagi anak untuk dapat bertumbuh dan mempelajari lingkungan sekitarnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interst atau values. Untuk menumbuhkan karakter yang baik, anak haruslah berada dilingkungan atau komunitas yang baik pula. Artinya interst dan values yang dimiliki setiap komunitas haruslah mendukung dan menjunjung perkembangan karakter yang baik dan sesuai dengan wahyu kitab suci agama, falsafah negara, maupun berbasis kekayaan nilai kearifan lokal.

Pendidikan berbasis komunitas tidak hanya melibatkan keluarga dan sekolah namun juga komunitas-komunitas lain yang ada di lingkungan sekitar anak. Anak dapat belajar langsung melalui kehidupan baik melalui alam maupun kehidupan sosial yang ada di sekitarnya. Anak tidak hanya belajar teori, namun juga mengalami langsung, baik melalui flield trip dan belajar bersama dengan anak-anak dan keluarga lain. Dalam pendidikan berbasis komunitas ini keberhasilan yang didapat tidak hanya melulu mengenai subjek akademik, tetapi inti dari pendidikan itu sendiri adalah kemampuan personak melalui hubungan interpersonal dan pengembangan interpersonal, yang mana ini adalah bagian dari pengembangan karakter anak. Pendidikan berbasis komunitaslah yang mampu memfasilitasi anak dalam mengembangkan kemampuan interpersonalnya.

Komunitas masyarakat dapat menjadi kontributor bagi sekolah untuk memecahkan masalah disekitarnya khususnya terkait dengan akhlak peserta didik. Kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh keterlibatan orang-orang dalam, melainkan juga ditentukan oleh adanya keterlibatan orang-orang luar sekolah yaitu orang tua siswa dan komunitas karakter. Berikut ini ada enam langkah pengembangan desain pendidikan karakter berbasis komunitas yaitu :

1.      Prioritas keutamaan nilai

Prioritas nilai karakter yang dikembangkan sesuai dengan nilai utama karakter yang terdiri dari nilai religius, nasionalism, mandiri, gotong royong dan integritas.

2.      Tujuan

Tujuan yang dimaksud yaitu tujuan dari kegiatan program yang akandilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai karakter.

3.      Perilaku yang diharapan

Perilaku yang diharapkan yaitu tujuan dari kegiatan program yang akan dilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai karakter.

4.      Ruang bagi tindakan

Ruang tindakan terdiri dari tiga poin, yaitu pertama, bentuk kegiatan program kegiatan berbasis komunitas yang dapat dilakukan dengan misalnya seminar atau kegiatan rutin keorganisasian. Kedua, yaitu langkah kegiatan yang dapat dilakukan dengan mulai mendesain/merumuskan program berdasarkan permasalahan yang sedang dibutuhkan solusinya dan melaksanakan bentuk program kegiatan. Ketiga, yaitu metode yang digunakan dapat dilakukan dengan pemberian informasi mengenai program kegiatan, pembiasaan terstruktur dilingkungan komunitas itu sendiri. Keempat, sarana yang dibutuhkan dalam pengembangan program.

5.      Penilaian

Penilaian atau evaluasi digunakan untuk melihat sejauh mana keterlaksaan program yang sudah sesuai dengan tujuan program yang direncanakan.

6.      Refleksi

Refleksi fokus kepada pengalaman individual peserta program kegiatan berbasis komunitas.



[1] Aisyah, Pendidikan Karakter : Konsep dan Implementasinya, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2018), hlm. 13

[2]  Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 28.

[3] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 31.

[4] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 32.

[5] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah: Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 84.

[6] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah: Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 86.

Sabtu, 25 November 2023

MODEL-MODEL BELAJAR/PEMBELAJARAN

 


A.    Model Pembelajaran Multiple intelligent

Multiple Intelegent adalah sebuah teori kecerdasan yang dimunculkan oleh Dr. Howard Gardner, sebuah ahli saraf dan psikolog terkemuka dari sekolah kedokteran Boston dan Harvard Univercity pada tahun 1983. Ketika itu, Gardner merupakan Co-Director pada project zero, sebuah kelompok riset di Harvard Graduate school Of Education. Dari proyek penelitian inilah gardner menemukan kecerdasan majemuk (Multiple Intelegent). Pada awalnya, kecerdasan ini hanya terdiri dari tujuh jenis kecerdasan. Kemudian penelitian dilanjutkan dan ditemukan dua jenis kecerdasan lagi sehingga jumlahnya menjadi sembilan.[1]

Teori ini merupakan teori yang mengungkap masalah kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan majemuk. Menurut Gardrner kecerdasan selama ini lebih dimaknai secara sempit, hanya sekedar diukur dengan menggunakan tes IQ. Kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan serangkaian tes psikologis, kemudian hasil tes itu diubah menjadi angka standar kecerdasan.  Pada bukunya Frame Of Mind , gardner mengatakan bahwa kecerdasan seseorang tidak diukur dari hasil tes psikologis standar, namun dapat dilihat dari kebiasaan seseorang terhadap dua hal. Pertama, kebiasaan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri (Problem Solving). Kedua, kebiasaan seseorang menciptakan produk-produk baru yang punya nilai budaya (Creativity).[2]

Pendekatan pembelajaran Multiple Intelligent bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu unggul dibidangnya. Pendekatan Multiple Intelligent menawarkan strategi belajar yang berkenaan dengan mengolah kecerdasan yang dimiliki siswa, strategi ini mengutamakan kecerdasan siswa dalam proses belajar dengan tujuan siswa mampu memahami materi ajar dengan lebih mudah. Pendekatan pembelajaran Multiple Intelligent ini mampu membuat siswa-siswa merasa menemukan siapa diri mereka dan siapa orang-orang disekeliling mereka dan apa yang mereka butuhkan demi pencapaian target prestasi mereka.[3] Model Multiple


membantu guru menyampaikan keberadaan pembelajaran tau unit ke dalam kesempatan yang banyak melibatkan perasaan bagi siswa.

Inti dari pendekatan pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya belajarnya agar mudah ditangkap dan mudah di pahami oleh peserta didik. Pendalaman dari pendekatan pembelajaran ini akan menghasilkan kemampuan peserta didik membuat peserta didik tertarik dan berhasil dalam belajarnya dengan waktu yang relative cepat. Pendekatan Multiple Intelligent ini jika diterapkan disekolah akan berdampak lebih mudah diterima dan memotivasi peserta didik dalam belajar karena peserta didik akan lebih senang menerima pelajaran yang disampaikan oleh gurunya.[4]

1.      Macam-macam Multiple Intelligent

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwasanya dalam proyek penelitian inilah gardner menemukan sembilan macam kecerdasan majemuk (Multiple Intelegent) pada siswa, adapun kesembilan keserdasan ini yaitu :[5]

a.       Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan berfikir dalam bentuk kata-kata, menggunakan bahasa untuk mengepresikan dan menghargai makna yang kompleks, kecerdasan ini lebih menekankan pada keterampilan berbahasa yang memungkinkan proses input pengetahuan yang terjadi pada Cluster otak bagian Lobus temporal kiri dan Lobus prontal yaitu satu area yang bertanggungjawab terhadap kemampuan menggunakan bahasa, baik membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat.

b.      Kecerdasan Logis-Matematis

Kecerdasan Logis-Matematis adalah kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Menurut Munif Chatib kecerdasan Logis-Matematis adalah kemampuan dalam berhitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi angka-angka.

c.       Kecerdasan Spasial-Vasual

Kecerdasan ini merupakan cara pandang dalam proyeksi dan kapasitas untuk berfikir dalam tiga cara dimensi. Aktivitas belajar siswa yang dominan visual idealnya menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan Spasi-Visual.

d.      Kecerdasan musik

Menurut Gardner kecerdasan music merupakan benuk bakat manusia yang paling awal muncul, Gardner menyatakan bahwa keahlian bidang musik bergantung pada bertambahnya pengalaman hidup seseorang.

e.       Kecerdasan Kinestetik

Siswa yang gaya belajar kinestetik lebih nyaman belajar melalui tindakan dan praktik langsung, gaya belajar kinestetik ini lebih senang belajarnya berada dilingkungan tempat dia bisa memahami sesuatu lewat pengalaman nyata. Ciri gaya belajar kinestetik adalah gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya, menggunakan objeknya sebagai alat bantu belajar, banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh yang baik, saat membaca menunjuk kata-katanya dengan jari tangan, unggul dalam olahraga dan keterampilan tangan, dengan menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu.

f.        Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif dan kemampuan mempertahankan hubungan yang sudah terjalin sebelumnya.

g.      Kecerdasan intrapersonal

Kegiatan belajar mengajar kecerdasan intrapersonal menekankan pada belajar melalui perasaan, nilai-nilai, sikap. Penekatan pendekatan kecerdasan intrapersonal didasari dari kemampuan membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri (Self Individu) dan menggunakan pengetahuan itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.

h.      Kecerdasan naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan berinteraksi dengan lingkungan (flora fauna) menjaga lingkungan dan menikmati keindahannya. Saran Amstrong sejalan dengan esensi pendekatan kecerdasan naturalis dalam proses belajar dimana cakupan hubungan antara manusia, flora dan fauna sebagai ekosistem natural terbangun melalui hubungan timbal balik antara tumbuhan, hewan dan lingkungan, dimana manusia tidak hanya menyenangi alam untuk dinikmati keindahannya tetapi juga kepedulian untuk melestarikan alam.

i.        Kecerdasan Eksistensial-Spiritual

Kecerdasan eksistensial berkaitan dengan kemampuan merasakan, memimpikan dan menjadi pemikir hal-hal yang besar. anak yang memiliki kecerdasan ini cenderung lebih memiliki kesadaran akan hakikat sesuatu, menanyakan hal yang mungkin tidak terfikirkan oleh anak seusianya. Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan berbagai macam jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual itu berstandar pada hati dan terilhami sehingga segala sesuatu yang dilakukan akan berakhir menyenangkan. Kecerdasan spiritual dibutuhkan karena berpengaruh pada sifat manusia sebagai pribadi dan pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

2.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Multiple Intelligent

Model pembelajaran Multiple Intelligent ini mampu menjembatani proses pembelajaran yang membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan dan siswa tidak hanya diberi materi dan teori-teori semata. Kelebihan dan kelemahan dalam Model Pembelajaran Multiple Intelligent antara lain:[6]

a.       Kelebihan model pembelajaran Multiple intelligent

1)      Guru dapat menggunakan kerangka Multiple intelligent dalam melaksanakan proses pembelajaran secara luas. Aktivitas yang bisa dilakukan seperti menggambar, menciptakan lagu, mendengarkan musik, melihat suatu pertunjukan dapat menjadi pintu masuk yang vital terhadap proses belajar.

2)      Dengan menggunakan model Multiple Intelligent, guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat dan talentanya.

3)      Peran serta orang tua dan masyarakat akan semakin meningkat di dalam mendukung proses belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa dalam proses belajar akan melibatkan anggota masyarakat.

4)      Siswa akan mampu menunjukkan dan berbagi tentang kelebihan yang dimilikinya. Membangun kelebihan yang dimiliki akan memberikan suatu motivasi untuk menjadikan siswa sebagai seorang spesialis.

5)      Pada saat guru mengajar untuk memahami, siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dan memecahkan persoalan yang dihadapinya.

 

b.      Kekurangan model pembelajaran Multiple Intelligent

1)      Membutuhkan tenaga guru yang banyak karena guru harus bekerja keras menyediakan atau memberi peluang kepada siswa untuk mengepresikan kompetensinya pada bidang yang diminati siswa, dan harus menumbuhkan semangat belajar siswa untuk mengetahui dibidang apa siswa berbakat.

2)      Peran serta orang tua dan masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat mendukung proses belajar mengajar.

3)      Guru harus ekstra membimbing siswa agar amu menunjukkan berbagai kelebihan yang dimilikinya. Serta harus memberikan seatu motivasi untuk menjadikan siswa sebagai spesialis.

4)      Pada saat guru mengajar, guru harus benar-benar professional dalam memilih dan memilah sumber bahan belajar agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya.

B.     Model Pembelajaran Holostik Education

Kata holistik berasal dari kata whole yang berarti menyeluruh. Pembelajaran Holistik Education adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.[7] Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkana potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik dapat diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesusia dirinya, memperoleh kecakapan social, serta dapat mengembangkan karakter dan emosinya. [8]

1.      Implementasi Model Pembelajaran Holistik

Model pembelajaran holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, fisik, artistic, kreatif, dan spiritual. Proses pembelajaran menjadi tanggungjawab personal sekaligus juga menjadi tanggungjawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistic diantaranya:

a.       Menggunakan pendekatan pembelajaran transvormative

b.      Prosedur pembelajaran yang fleksible

c.       Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu

d.      Pembelajaran yang bermakna

e.       Pembelajaran melibatkan komunitas dimana individu berada.

Di dalam pembelajaran holistik guru tidak lagi memberikan inforamasi dalam bentuk ceramah dan buku teks. Terkait dengan materi pembelajaran,maka materi pembelajaran tidak lagi bentuk informasi dalam bidang studi terlepas tapi siswa akan mempelajari hubungan antar informasi. Dengan demikian, melaui pembelajaran holostik, maka pembelajaran harus berubah menjadi sebagai berikut:

a.       Dari belajar mengajar ke membelajarkan

b.      Dari suasana tegang ke cair menyenangkan

c.       Dari kata-kata negatif ke positif

d.      Dari mengatur ke memberi pilihan

e.       Dari melarah ke mengarahkan

f.        Dari memerintah ke mengajak

g.      Dari menyeragamkan ke keberagaman

h.      Dari bicara keras ke bicara lembut

i.        Dari berpusat pada guru ke murid/anak

j.        Dari penggunaan ukuran dewasa ke pemahaman tentang anak

k.      Dari pembelajaran monoton/konvensional ke pembelajaran kreatif

l.        Dari membandingkan ke menerima perbedaan

Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi bersama teman-temannya dan belajar dengan cara mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Namun ini tidak berarti bahwa peran guru menjadi kurang penting. Guru sebagai fasilitator ia harus membimbing murid dalam mengusahakan informasi, melakukan seleksi terhadap informasi yang masuk dalam jumlah besar sesuai dengan keperluannya serta menggunakan informasi itu untuk mengembangkan dirinya. Akan tetapi pembentukan dan pendidikan guru harus mengalami perubahan sebagai akibat perubahan peran itu.

Sebuah pembelajaran yang holistic hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami-natural-nyata-dekat dengan diri anak, dan guru melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreatifitas dan bahan-bahan/sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.[9]

2.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Holistik

Di dalam pelaksanaannya, model pembelajaran holistik memiliki kelebihan serta kekurangannya. Oleh karena itu, adapun kelebihan dan kekurangannya yaitu sebagai berikut:

a.       Kelebihan model pembelajaran holistik

1)      Model pembelajaran ini sangat proaktif

2)      Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan terlepas satu sama lain

3)      Murid dihadapkan pada masalah yang berarti dalam kehidupan manusia

4)      Pembelajaran ini akan memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dan masyarakat

5)      Aktivitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berfikir sendiri dan bekerja sendiri, atau bekerjasama dengan kelompok

6)      Pelajaran mudah disesuaikan dengan minat kesangggupan dan minat murid.

b.      Kekurangan model pembelajaran holistic

1)      Tidak dapat dipaksakan pada pembelajaran, harus diberikan dasar dahulu

2)      Memberatkan tugas guru

3)      Tidak memungkinkan adanya tujuan umum, sebab tidak ada unformitas disekolah-sekolah antara satu dengan yang lainnya

4)      Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan pembelajaran ini

5)      Mudah terjadi bentrokan antara ide dengan ide yang lain

6)      Jika model pembelajaran ini dilakukan dengan ekstrem, dapat menyebabkan minat menjadi lemah dan mencairkan semangat mental anak.

C.    Model Pembelajaran Experiental Learning

Experiental Learning yang dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal tahun 1980-an yang menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiental learning, pengalaman mempunyai peran sentral dan proses belajar. Dalam teori experiental learning, belajar merupakan proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Model pembelajaran experiental learning merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, dimana anak mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini, anak belajar tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka, hal ini dikarenakan anak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk di jadikan sebagai suatu pengalaman. Pengetahuan yang tercipta dari model pembelajaran ini meruapakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.[10] Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara yaitu :

1.      Mengubah struktur kognitif siswa

2.      Mengubah sikap siswa

3.      Memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang sudah ada

Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada maka kedia elemennya tidak akan aktif. Model experiental learning memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Belajar melalui pengalaman mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan konsep belajar melalui pengalaman, segala aktivitas kehidupan yang dialami individu merupakan sarana belajar yang dapat menciptakan ilmu pengetahuan. Belajar dari pengalaman mencangkup keterkaitan antara berbuat dan berfikir. Jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar, maka siswa itu akan belajar lebih baik. Hal ini dikarenakan dalam proses belajar tersebut siswa secara aktif berfikir tentang apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkan hasil dari proses belajar dalam situasi nyata.

1.      Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Experiental Learning

Proses belajar experiental learning merupakan kegiatan merumuskan sebuah tindakan, mengujinya, menilai hasil, memperoleh feedback, merefleksikan, mengubah dan mendefinisikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip yang harus dipahami dan diikuti. Adapaun prinsip-prinsip tersebut berdasarkan teori lewin, yaitu:

a)      Experiental learning yang efektif akan mempengaruhi berfikir siswa, sikap dan nilai-nilai, persepsi dan prilaku siswa.

b)      Siswa lebih mempercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri daripada pengetahuan yang diberikan orang lain. Menurut lewin, berdasarkan hasil ekperimen yang dia lakukan, bahwa pendekatan belajar yang didasarkan pada pencarian dan penemuan dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan berkomitmen mereka untuk mengimplementasikan penemuan tersebut pada masa yang akan datang.

c)      Belajar akan lebih efektif bila merupakan sebuah proses yang aktif. Pada saat siswa mempelajari sebuah teori, konsep atau memperaktekkan, dan mencobanya, maka siswa akan memahami lebih sempurna, dan mengintegrasikan dengan apa yang dia pelajari sebelumnya serta akan dapat mengingat lebih lama. Banyak dari konsep atau teori-teori yang tidak akan dipahami sampai siswa mencoba untuk menggunakannya.

d)      Perubahan hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif, dan prilaku, tetapi secara holistik. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah system dalam proses belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur, dan sederhana. Mengubah salah satu dari ketiga elemen tersebut menyebabkan hasil belajar tidak efektif.

e)      Experiental learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk mengubah kognitif, afektif, maupun prilaku. Mengajarkan siswa untuk dapat berubah tidak berarti bahwa mereka mau berubah. Memberikan alasan mengapa harus berubah tidak cukup memotivasi siswa untuk berubah. Membaca sebuah  buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak cukup untuk menghasilkan penguasaan dan perhatian pada materi, tidak cukup mengubah sikap dan keterampilan social. Experiental learning merupakan proses belajar yang menambahkan minat belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang diinginkan.

f)       Mengubah persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan sebelum melakukan pengubahan pada kognitif, afektif, dan prilaku. Menurut lewin, tingkah laku dan cara berfikir seorang ditentukan oleh persepsi mereka. Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan lingkungan disekitarnya  akan memperngaruhi dalam berprilaku, berfikiran, dan merasakan.

g)      Perubahan prilaku tidak akan bermakna bila kognitif, afektif dan perilaku itu sendiri tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapar dikuasai atau dipraktekkan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar terus menerus, keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi luntur dan hilang.

2.      Kelebihan dan Kekurangan dari Model Experiental Learning

Dalam penerapan model pembelajaran experiental learning, setiap peserta didik memiliki berbagai macam gaya belajar yang berbeda. Tugas pendidik yaitu mampu menguasai perbedaan gaya belajar siswa tersebut agar siswa dapat berprestasi dalam belajar serta mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan juga optimal. Adapun kelebihan dan kekurangan dari Model Pembelajaran Experiental Learning yaitu sebagai berikut:[11]

a.       Kelebihan model pembelajaran experiental learning

1)      Meningkatkan semangat belajar siswa karena pembelajaran yang aktif

2)      Membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif, karena pembelajaran berstandar pada penemuan individu

3)      Memunculkan kegembiraan dalam proses belajar mengajar karena pemebelajaran yang dinamis, terbuka dari berbagai arah

4)      Mendorong serta mengembangkan proses berfikir kreatif karena pembelajaran partisipatif untuk menemukan sesuatu.

b.      Kekurangan model pembelajaran experiental learning

1)      Biaya yang mahal dan memerlukan waktu yang panjang.

2)      Sulit dipahami dan dimengerti oleh pendidik sehingga belum banyak yang menerapkan model pembelajaran ini.



[1] Rizka Amalia, Model dan Strategi Pembelajaran dalam mengembangkan multiple Intelligences pada anak usia dini, hlm 281.

[2] Ibid, hlm 282.

[3] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 8.

[4] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 16.

[5] Ibid, hlm 19.

[6] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 27.

[7] Anhar, “Pembelajaran Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol. 3, No. 2. 2015. Hlm 34.

[8] Anhar, “Pembelajaran Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol. 3, No. 2. 2015. Hlm 28.

[9] Herman Sanusi, “Implementasi Pembelajaran Holistik dalam Meningkatkan Minat dan Motivasi Siswa”, Jurnal Prosiding FKIP umma, vol. 1, 2019,  hlm 27.

[10] Eva Sutriana, Deskripsi Penerapan Model Experiental Learning dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 13 Sinjai.

[11] Syarifah Diva Masthura, Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Experiential dengan Pemanfaatan Media Video Compact Disc Pada Tema Makananku Sehat dan Bergizi terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IV MIN Jantho Aceh Besar (Skripsi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, 2017), hlm 17.

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM

  A.     Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan dalam bahasa Latin disebut   educare, secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia...