A.
Pengertian
Pendidikan Karakter
Pendidikan dalam
bahasa Latin disebut educare,
secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia pertanian dikenal istilah
educare yangberarti menyuburkan; mengolah tanah menjadi subur agar tanaman
dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Dengan
demikian, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha mempersiapkan peserta didik
agar dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan mampu beradaptasi dengan
berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi dalam menjalani kehidupannya.
Selanjutnya yaitu
kata karakter, dalam kamus Poewadaminta sebagaimana dikutip oleh Abdul Madjid
dan Dian Andayani, karakter diartikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat,
akhlak, dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Adapun
menurut Kamus Populer Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai wata,
tabi’at, Pembawaan, kebiasaan. Sedangkan secara terminologi, istilah karakter
diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak
sifat yang tergantung dari factor kehidupannya sendiri. Karaker adalah sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau
sekelompok orang.
Pendidikan
karakter merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam
memfasilitasi dan membantu peserta didik untuk mengetahui hal-hal yang baik dan
luhur, mencintainya, memiliki kompetensi intelektual, berpenampilan menarik,
dan memiliki kemauan yang keras untuk memperjuangkan kebaikan dan keluhuran
serta dapat mengambil keputusan secara bijak, sehingga ia mampu memberikan
kontribusi positif dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian,
hakikat pendidikan karakter adalah pendidikan nilai yang membantu dan
memfasilitasi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang manjadi manusia
paripurna (insan kamil).
Secara
operasional pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu
penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan
karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang,
sesuai standar kompetensi luliusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan
peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,
mengkaji dan
menginternalisasi serta mempersonalisaisi
nilai-nilai karakter dan akhlak mulia, sehingga terwujud dalam prilaku
sehari-hari.[1]
B.
Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Pendidikan karakter pertama kali diperoleh oleh anak
ada di dalam lingkungan keluarga, orang tua menjadi pendidik karakter anak di
dalam keluarga. Sesudah itu, sekolah dapat memainkan peran signifikan dalam
pengembangan karakter, sebagai kelanjutanpengembangan karakter yang diterima
anak dari keluarga. Sekolah mendukung iswa dalam seluruh kehidupan pendidikan
yang akan diperoleh dan dialami. Sekolah berusaha menciptakan lingkungan
sehingga siswa merasa aman, nyaman, diterima dan dididik akan prilaku
bertanggung jawab, teliti, yang nantinya akan menjadi bagian masyarakat yang produktif. Untuk mencapai
serta memfokuskan pada pengembangan dan peningkatan pendidikan karakter di
sekolah, salah satu ruang atau basis terselenggaranya proses pembelajaran
karakter adalah basis kelas.
Kelas merupakan salah satu bagian dari seluruh proses
kehidupan pendidikan maupun pembelajaran yang ada di sekolah. Secara
tradisional di dalam kelas terjadi pembelajaran, baik oleh siswa maupun guru.
Meskipun demikian, ketika sekolah ingin mengembangkan karakter siswanya, maka
seluruh lingkungan sekolah dapat dijadikan sebuah kelas itu sendiri sebagai
sarana pengembangan karakter. Ruang
kelas bukan hanya sebagai ruang mendapat pengetahuan atau prestasi akademis, tetapi
juga merupakan ruang pengembangan dan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter yang dikembangkan dalam kelas
sama penting dan berguna seperti mata pelajaran lainnya, karena bila
mengutamakan pengetahuan tidak akan menjamin hadirnya pribadi yang baik
untuk generasi berikutnya. Keraguan atau
kecurigaan akan adanya hambatan yang akan dialami siswa dalam meraih
keberhasilan prestasi secara akademis, yang diakibatkan oleh adanya perhatian
yang seimbang kepada karakter, tidaklah tepat. Justru dengan adanya pendidikan
karakter yang mengimplementasikan dalam babsis kelas mempengaruhi seluruh
wilayah pembelajaran di dalam kelas serta semakin menolong siswa lebih fokus
dan menyelesaikan pelajaran dan memperoleh hasil dengan baik. Selain itu juga,
pendidikan karakter berbasis kelas menolong siswa berinteraksi dengan para guru
dan siswa lainnya seharusnya, menciptakan kelas menjadi lingkungan yang semakin
baik dan berkarakter.[2]
Dengan mengintegrasikan atau memadukan karakter pada
seluruh dimensi proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, diharapkan
mencapai suatu keseimbangan. Pendidikan karakter berbasis kelas mengubah proses
pembelajaran yang tadinya lebih banyak berorientasi atau memfokuskan pada mata
pelajaran, akademis maupun prestasi, sekarang menjadi sama berorientasi atau
memberi perhatian yang sama dengan
karakter. Pertumbuhan karakter dan pertumbuhan karakter dan pertumbuhan
akademis yang berlangsung dalam kelas ibarat
dua sisi sebuh koin, karena generasi berikutnya dari bangsa ini dapat kita
lihat pada wajah-wajah siswa yang ada dan hadir dalam kelas, serta menjalani
kehidupan dan berinteraksi di dunia. Pendidikan karakter berbasis kelas tidak
hanya menolong siswa berhasil di dalam kelas tetapi juga dalam kehidupan yang
akan mereka menjalani di luar kelas. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan
karakter berbasis tergantung dengan bagaimana perspektif dan peran guru dalam
merancang kelas menjadi sebuah kelas yang terbuka positif, kelas yang bermuatan
karakter.
1.
Peran Guru dalam Pendidikan karakter
Berbasis Kelas.
Peran guru merupakan salah satu strategi kuci untuk
mengembangkan pendidikan karakter berbasis kelas. Guru semestinya menciptakan
kondisi kelas dengan nilai-nilai karakter yang dipraktikkan, sehingga siswa
merasa aman dan nyaman meniru nilai-nilai yang dipraktikkan tersebut. Guru
berperan menyatukan nilai-nilai pendidikan karakter dalan rencana pelajaran
sehari-hari dan mendemonstrasikannya pada bergam situasi dan kondisi, untuk
menghindari dari terjadi pengulangan dari tahun ke tahun, secara berkelanjutan
guru merevisi pelajaran mereka untuk tetap menjaga konsistensi nilai-nilai karakter
bermakna dan relevan bagi siswa. Ada
Sembilan strategi untuk guru dalam mengembangkan karakter berbasis kelas,
yaitu:[3]
a.
Guru sebagai caregiver, moral model, dan moral mentor.
Di dalam kelas, seperti di dalam
keluarga, guru menjadi role model bagi siswa sepanjang hari, setiap hari.
Dampak moral guru bagi siswa sangat tergantung pada kualitas relasi guru dengan
siswa. Dalam menjalin relasi dengan siswa, seorang guru dapat menggunakan
pengaruh moral positif pada tiga cara, yaitu menghargai dan peduli kepada
siswa, menjadi teladan yang baik, serta memberikan tuntunan moral.
b.
Membangun sebuah komunitas kelas yang
peduli.
Guru dapat mengambil langkah-langkah
untuk membangun sebuah komunitas kelas yang peduli dengan monolong siswa;
mengenal setiap siswa sebagai pribadi, menghargai, perhatian/peduli, dan
menguatkan satu dengan lain, dan merasa dihargai sebagai anggota dalam
kelompok. Seorang siswa memounyai dua atau tiga pelajaran tentang kebaikan, kemungkinan menjadi baik;
seorang siswa yang memberlakukan kebaikan setiap saat akan memperoleh nilai
karakter tersebut.
c.
Disiplin moral
Disiplin semestinya menolong siswa dalam
mengembangkan moral, disiplin diri, dan menghormati orang lain. Ketika
aturan-aturan diterapkan semestinya siswa melihat standar moral di belakang
aturan-aturan tersebut. Perlu dijelaskan kepada siswa bahwa mengikuti aturan
itu merupakan hal benar yang dilakukan karena tersebut menghargai hak-hak dan
kebutuhan-kebutuhan yang lain.
d.
Membangun lingkungan kelas yang
demokratis.
Dalam mewujudkan hal tersebut, berarti
melibatkan siswa lebih komitmen dan berbagi dalam mengambil keputusan sehingga
meningkatkan tanggungjawab mereka menjadikan kelas sebuah tempat yang baik
untuk belajar. Didalam membangun lingkungan kelas yang demokratis, keahlian
guru perlu dilatih terutama melalui sifat meyakinkan dan tanggungjawab
organisasi didalam memetakan pertahanan kondisi demokratis.
e.
Mengajarkan nilai melaui kurikulum/mata
pelajaran.
Guru seharusnya melihat kurikulum/mata
pelajaran dan bertanya: “pertanyaan-pertanyaan moral dan pelajaran karakter apa
yang sudah ada di dalam mata pelajaran yang saya ajarkan? Bagaimana saya dapat
menyusun pertanyaan-pertanyaan dan pelajaran tersebut menjadi penting bagi
siswa saya?”
f.
Belajar kerjasama
Belajar kerja sama perlu dikembangkan di
dalam pembelajaran, khususnya yang terkait dengan kompetensi karakter social
dan moral. Kebiasaan-kebiasaan mempertimbangkan perspektif orang lain,
kemampuan bekerja sebagai sebuah tim, serta menghargai keberadaan dan situasi
orang lain diberikan bersamaan saat siswa mempelajari materi akademis. Beberapa
studi mengatakan bahwa pelajaran yang berbentuk kerjasama dalam kelompok 3 atau
4 orang akan meningkatkan pencapaian dan memperkuat empati, persahabatan dan
apresiasi satu dengan yang lainnya.
g.
The Conscience of craft
Apa yang kita kerjakan tentu akan
berdampak bagi orang lain. Salah satu yang paling penting adalah mendengarkan
suara hati untuk melakukan hal yang baik. Guru menolong siswa mengembangkan
karakter dengan menentukan, contoh tugas dan tanggungjawab melalui pengajaran
mereka, sekaligus mengkombinasikan harapn yang tinggi disertai dengan dukungan
yang tinggi pula, serta menyediakan sebuah kurikulum yang mempertemukan seluruh
siswa dalam kelas, dan memberikan tugas yang bermakna.
h.
Refleksi etis
Ini merupakan salah satu strategi mengembangkan
kualitas sisi kognitif karakter. Tujuan khususnya adalah mengajarkan siswa
tentang apa itu nilai, bagaimana memperaktikkan kebiasaan nilai karakter yang
dilakukan akan menuntun kehidupan siswa, serta memberikan penjelasan untuk
setiap alasan pengembangan karakter.
i.
Mengajarkan penyelesaikan konflik
Mengajarkan siswa tentang bagaimana menyelesaikan
konflik tanpa paksaan atau intimidasi merupakan bagian penting dari pendidikan
karakter untuk dua alasan. (a) konflik-konflik yang tidak diselesaikan dengan
adil akan mencegah atau mengikis sebuah komunitas moral yang ada di dalam
kelas, dan (b) tanpa memperlengkapi soswa menyelesaikan konflik, maka siswa
akan gagal dalam berelasi interpersonal dan akan berkontribusi terhadap
kekerasan di sekolah dan masyarakat.
Selain mengembangkan kehidupan moral di
dalam kelas yang dilakukan guru, pendekatan komprehensif yang dapat dilakukan
sekolah sebagai keseluruhan adalah:[4]
a.
Mengembangkan rasa peduli melalui kelas, menggunakan
model pasif untuk menginspirasi perilaku altruistic dan menyediakan
kesempata-kesempatan di setiap tingkat pendidikan untuk berpartisipasi dalam
kegiatan komunitas sekolah.
b.
Menciptakan sebuah kultur moral yang positif disekolah
c.
Melibatkan orang tua dan komunitas dalam
pendidikan karakter.
2.
Peran Siswa dalam Pendidikan Berbasis
Kelas
Selain guru yang memiliki peran dalam pendidikan
karakter berbasis kelas, siswa juga dapat berpartisipasi dalam mengembangkan
pendidikan karakter berbasis kelas bagi teman-teman sebaya di kelas. Oleh
karena itu, ada dua peran yang dapat dilakukan oleh siswa yaitu:
a.
Siswa sebagai role model
Lingkungan pembelajaran di dalam kelas
memungkinkan munculnya model-model yang
saling bersinggungan atau berkonflik, dan pola-pola prilaku yang disruptif.
Oleh karena itu, guru mempersiapkan kepemimpinan siswa serta membagikan
kepemimpinan kepada siswa.
b.
Siswa sebgai controller
Siswa memiliki pengendalian terhadap
karakter individual maupun siswa lainnya. Rasa tanggungjawab menjadi hal yang
dibutuhkan bila ingin memperoleh hasil atau dampak yang positif. Rasa
tanggungjawab ini akan muncul ketika siswa diberikan sebuah situasi yang
membutuhkan tanggungjawab. Rasa tanggungjawab
ini mungkin terasa lambat, namun memiliki dampak yang lama. Siswa dapat mengendalikan diri mereka melalui
keinginan untuk terus belajar. Betul bahwa tujuan utama siswa di sekolah adalah
belajar, tetapi harus memberi perhatian, menemukan rasa tanggungjawab tersebut,
dan meniru contoh-contoh tauladan yang mereka lihat di kelas. Siswa juga dapat
mengendalikan prilaku siswa lain dengan dua cara. Pertama, siswa- siswa
menunjukkan model prilaku karakter yang dapat ditiru oleh siswa-siswa yang
lain. Kedua, siswa-siswa menggunakan tekanan kepada siswa-siswa yang lain
supaya sesuai dengan kelompok. Tekanan-tekanan itu bersifat halus dan
transparan.
C.
Pendidikan
Karakter Berbasis Kultur Sekolah
Salah satu model implementasi pendidikan karakter adalah berbasis
kultur sekolah. Pemahaman tentang makna kultur sekolah sangat beragam. Ada yang
berpendapat bahwa kultur sekolah itu berisi keyakinan, sikap, dan prilaku.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa kultur sekolah itu terdiri dari
harapan-harapan, nilai-nilai dan pola-pola yang dibagikan yang mendefinisikan
siapa kita dan bagaimana kita memperlakukan satu dengan yang lain dan bagaimana
kita melakukan pekerjaan/karya/perbuatan kita. Kultur sekolah merupakan sebuah
daya yang bertenaga, yang mampu mempengaruhi bagaimana orang berfikir, merasa,
berkeyakinan dan bertindak atau bekerja.
Dengan demikian, pendidikan berbasis kultur sisekolah bertujuan
untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran
atau pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran atau pendidikan yang
dapat menolong setiap individu bertumbuh dewasa dalam keyakinan, lingkungan,
sebab kultur itu merupakan cerminan cara
berfikir dan bekerja dan juga bentuk sesungguhnya dari prilaku makhluk tuhan.[5] Mendidik karakter berbasis
kultur sekolah tidak hanya soal dalam hal aturan-aturan sekolah atau hal-hal
yang biasa dilakukan secara terjadwal/terencana. Mendidik karakter siswa
melalui basis kultur di sekolah berarti mendidik keyakinan, sikap, perbuatan,
yang nantinya akan mengembangkan manusia-manusia yang berbudaya.
1.
Implementasi
Pendidikan Karakter berbasis Kultur Sekolah
Ketika kebudayaan menjadi bagian
penting, selain pendidikan dan pengajaran, dalam lembaga pendidikan tau
sekolah, maka pada saat itu juga sekolah menjadi sebuah lembaga kebudayaan,
sebagai sebuah alat transmisi kebudayaan, sekolah menjadi sebuah komunitas
budaya. Kondisi menjadi satu hal yang dibutuhkan ketika pendidikan karakter
berbasis kultur sekolah ingin diimplementasikan. Menurut Character Education
Partnership ada tiga kondisi dasar yang diyakini mampu meningkatkan kultur
sekolah, yaitu:
a. Sekolah membuthkan ukuran-ukuran keberhasilan dan wilayah-wilayah
untuk kemajuan yang melampaui batas-batas nilai sebuah tes.
b. Sebuah pemahaman komprehensif tentang kultur sekolah semestinya
dimiliki oleh setiap guru.
c. Sekolah membutuhkan media atau sarana untuk membangun dan menilai
kultur sekolah, dan harus akuntabel untuk kepentingan kuktur sekolah.
selain kondisi dasar yang dibutuhkan, proses merupakan salah satu
fokus dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah.
Dalam tulisannya, Cece Rahmat mengatakan bahwa ada beberapa proses yang
dilakukan sekolah sebagai lembaga yang memiliki misi kebudayaan, yaitu:
1.
Pewarisan
kebudayaan.
2.
Membantu
individu memilih peran social dan mengajari untuk melakukan peran tersebut.
3.
Memadukan
beragam identitas individu ke dalam lingkuup kebudayaan yang lebih luas.
4.
Harus menjadi sumber inovasi sosial.
2. Jenis-Jenis Kultur Sekolah
Beberapa ahli
membedakan jenis kultur sekolah yaitu kultur sekolah yang individualistis dan
kolaboratif. Kultur individualistis terbentuk setelah bertahun-tahun mengajar
dalam keterpisahan antara guru yang satu dengan guru yang lain, dan sekolah
yang penuh yang asing satu dengna yang lain. Tidak ada relasi yang terbangun
antara guru dengan guru yang lain. Kultur ini memiliki pandangan konservatif
dan selalu menolak perubahan dan inovasi. Sedangkan kultur kolaborasi
menganggap bahwa mengajar bukannlah suatu yang mudah dan guru baik tidak pernah
berhenti untuk belajar mengajar. Kultur kolaborasi ini memiliki keyanikan akan
terjadinya perubahan dan lebih mengedepankan inovasi. Dalam perspektif kultur
ini, memberi dan menerima bantuan dipandang sebagai hal positif, dan bukan
sebagai sebuah kelemahan.
Selain itu,
kultur yang terbentuk di sekolah yaitu kultur positif dan kultur toxic. Disebut
kultur positif sebuah sekolah ketika seluruh warga sekolah merasakan
kenyamanan, positif dan penuh keyakinan serta harapan. Sebaliknya dalam kultur Toxic, sekolah
biasanya terbentuk serta ditemukan dalam suasana depresi dan frustasi, baik
guru maupun warga sekolah lainnya tidak yakin serta tidak dapat membawa
perubahan serta tidak membawa peningkatan sekolah ke level yang lebih tinggi,
saling menyalahkan dan sebagainya. Bila dikaitkan dengan pemahaman kultur
sekolah, maka ada tiga kultur sekolah yaitu kultur efikasi, (misalnya
pengalaman keahlian, pengalaman delegasi, persuai sosial dan bangunan emosional),
kultur percaya, yang pertama kali dalam kultur percaya ini adalah para guru
harus percaya kepada kepada kepala sekolahnya, dan terakhir yaitu kultur
akademis, otimisme merupakan payung yang menyatukan efikasi dan percaya dengan tekanan akademis. Dengan
demikian, kultur positif serta kultur kolaborasi bersinergi dengan kultur
efikasi, kultur trust/percaya dan optimisme akan menghasilkan sebuah kultur
sekolah yang mempu mengimplementasikan pendidikan karakter.[6]
3.
Peran Pendidik
dalam Pendidikan Berbasis Kultur di Sekolah
Secara umumdiketahui bahwa orangtua
merupakan pendidik karakter, termasuk kultur yang pertama dalam diri seorang
anak. Namun perlu diakui bahwa keluarga membutuhkan lembaga pendidikan, dan
lembaga pendidikan membuthkan keluarga dalam melaksanakan visi dan misinya.
Lembaga di sekolah merupakan perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga.
Keduanya saling mengisi untuk mendidik generasi penerus miliki kultur yang
baik. Betul bahwa pendidikan karakter di sekolah merupakan tanggungjawab
seluruh warga sekolah. Setiap warga disekolah tidak terlepas dari kultur
sekolah itu sendiri sekaligus mempengaruhi dalam membangun kultur sekolah.
Namun, tanggungjawab yang lebih besar berada di kepala sekolah dan guru.
Kepala sekolah merupakan sosok yang
berperan menjadi model dalam membangun kultur sekolah. Kepala sekolah berperan
mengkomunikasikan nilai-nilai inti yang berlaku dalam pekerjaan setiap hari.
Para guru berperan memperkuat nilai-nilai tersebut dalam tindakan-tindakan dan
kata-kata. Bahkan para guru seperti kebanyakan organisasi lainnya,
menyelasarkan keyakinan dan prilaku selaras dengan struktur, kebijakan dan
tradisi di lingkungan sekolah.
D. Pendidikan karakter Berbasis Komunitas
Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan
semua pihak, baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah,
serta masyarakat luas. Lembaga pendidikan atau sekolah adalah salah satu tempat
dimana anak didik untuk mengembangkan karakter yang baik di dalam dirinya.
Artinya, pengembangan karakter anak tidak cukup dititikberatkan pada satu
bagian saja, namun juga secara menyeluruh. Disinilah pendidikan berbasis
komunitas diperlukan.
Komunitas adalah suatu ruang lingkup yang penting bagi
anak untuk dapat bertumbuh dan mempelajari lingkungan sekitarnya, dimana dalam
sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas
tersebut karena adanya kesamaan interst atau values. Untuk
menumbuhkan karakter yang baik, anak haruslah berada dilingkungan atau
komunitas yang baik pula. Artinya interst dan values yang dimiliki setiap
komunitas haruslah mendukung dan menjunjung perkembangan karakter yang baik dan
sesuai dengan wahyu kitab suci agama, falsafah negara, maupun berbasis kekayaan
nilai kearifan lokal.
Pendidikan berbasis komunitas tidak hanya melibatkan
keluarga dan sekolah namun juga komunitas-komunitas lain yang ada di lingkungan
sekitar anak. Anak dapat belajar langsung melalui kehidupan baik melalui alam
maupun kehidupan sosial yang ada di sekitarnya. Anak tidak hanya belajar teori,
namun juga mengalami langsung, baik melalui flield trip dan belajar
bersama dengan anak-anak dan keluarga lain. Dalam pendidikan berbasis komunitas
ini keberhasilan yang didapat tidak hanya melulu mengenai subjek akademik,
tetapi inti dari pendidikan itu sendiri adalah kemampuan personak melalui
hubungan interpersonal dan pengembangan interpersonal, yang mana ini adalah
bagian dari pengembangan karakter anak. Pendidikan berbasis komunitaslah yang
mampu memfasilitasi anak dalam mengembangkan kemampuan interpersonalnya.
Komunitas masyarakat dapat menjadi kontributor bagi
sekolah untuk memecahkan masalah disekitarnya khususnya terkait dengan akhlak
peserta didik. Kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter tidak hanya
ditentukan oleh keterlibatan orang-orang dalam, melainkan juga ditentukan oleh
adanya keterlibatan orang-orang luar sekolah yaitu orang tua siswa dan
komunitas karakter. Berikut ini ada enam langkah pengembangan desain pendidikan
karakter berbasis komunitas yaitu :
1. Prioritas keutamaan nilai
Prioritas nilai karakter yang dikembangkan
sesuai dengan nilai utama karakter yang terdiri dari nilai religius,
nasionalism, mandiri, gotong royong dan integritas.
2. Tujuan
Tujuan yang dimaksud yaitu tujuan dari
kegiatan program yang akandilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai
karakter.
3. Perilaku yang diharapan
Perilaku yang diharapkan yaitu tujuan dari
kegiatan program yang akan dilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai
karakter.
4. Ruang bagi tindakan
Ruang tindakan terdiri dari tiga poin, yaitu
pertama, bentuk kegiatan program kegiatan berbasis komunitas yang dapat
dilakukan dengan misalnya seminar atau kegiatan rutin keorganisasian. Kedua,
yaitu langkah kegiatan yang dapat dilakukan dengan mulai mendesain/merumuskan
program berdasarkan permasalahan yang sedang dibutuhkan solusinya dan
melaksanakan bentuk program kegiatan. Ketiga, yaitu metode yang digunakan dapat
dilakukan dengan pemberian informasi mengenai program kegiatan, pembiasaan
terstruktur dilingkungan komunitas itu sendiri. Keempat, sarana yang dibutuhkan
dalam pengembangan program.
5. Penilaian
Penilaian atau evaluasi digunakan untuk
melihat sejauh mana keterlaksaan program yang sudah sesuai dengan tujuan
program yang direncanakan.
6. Refleksi
Refleksi fokus kepada pengalaman individual
peserta program kegiatan berbasis komunitas.
[1] Aisyah, Pendidikan Karakter : Konsep dan Implementasinya, (Jakarta
: Prenadamedia Group, 2018), hlm. 13
[2] Harun D. Simarmata,
Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019,
hlm 28.
[3] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal
Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 31.
[4] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal
Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 32.
[5] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah:
Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 84.
[6] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah:
Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 86.

