A.
Model
Pembelajaran Multiple intelligent
Multiple
Intelegent adalah sebuah teori kecerdasan yang dimunculkan oleh Dr. Howard
Gardner, sebuah ahli saraf dan psikolog terkemuka dari sekolah kedokteran
Boston dan Harvard Univercity pada tahun 1983. Ketika itu, Gardner merupakan
Co-Director pada project zero, sebuah kelompok riset di Harvard Graduate school
Of Education. Dari proyek penelitian inilah gardner menemukan kecerdasan
majemuk (Multiple Intelegent). Pada awalnya, kecerdasan ini hanya terdiri dari
tujuh jenis kecerdasan. Kemudian penelitian dilanjutkan dan ditemukan dua jenis
kecerdasan lagi sehingga jumlahnya menjadi sembilan.[1]
Teori ini
merupakan teori yang mengungkap masalah kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan
majemuk. Menurut Gardrner kecerdasan selama ini lebih dimaknai secara sempit,
hanya sekedar diukur dengan menggunakan tes IQ. Kecerdasan seseorang lebih
banyak ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan serangkaian tes psikologis,
kemudian hasil tes itu diubah menjadi angka standar kecerdasan. Pada bukunya Frame Of Mind , gardner mengatakan bahwa kecerdasan seseorang tidak
diukur dari hasil tes psikologis standar, namun dapat dilihat dari kebiasaan
seseorang terhadap dua hal. Pertama, kebiasaan seseorang menyelesaikan
masalahnya sendiri (Problem Solving). Kedua, kebiasaan seseorang menciptakan
produk-produk baru yang punya nilai budaya (Creativity).[2]
Pendekatan
pembelajaran Multiple Intelligent bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda
yang mampu unggul dibidangnya. Pendekatan Multiple Intelligent menawarkan
strategi belajar yang berkenaan dengan mengolah kecerdasan yang dimiliki siswa,
strategi ini mengutamakan kecerdasan siswa dalam proses belajar dengan tujuan
siswa mampu memahami materi ajar dengan lebih mudah. Pendekatan pembelajaran
Multiple Intelligent ini mampu membuat siswa-siswa merasa menemukan siapa diri
mereka dan siapa orang-orang disekeliling mereka dan apa yang mereka butuhkan
demi pencapaian target prestasi mereka.[3]
Model Multiple
membantu guru menyampaikan keberadaan
pembelajaran tau unit ke dalam kesempatan yang banyak melibatkan perasaan bagi
siswa.
Inti dari pendekatan pembelajaran ini adalah
bagaimana guru mengemas gaya belajarnya agar mudah ditangkap dan mudah di
pahami oleh peserta didik. Pendalaman dari pendekatan pembelajaran ini akan
menghasilkan kemampuan peserta didik membuat peserta didik tertarik dan
berhasil dalam belajarnya dengan waktu yang relative cepat. Pendekatan Multiple
Intelligent ini jika diterapkan disekolah akan berdampak lebih mudah diterima
dan memotivasi peserta didik dalam belajar karena peserta didik akan lebih
senang menerima pelajaran yang disampaikan oleh gurunya.[4]
1.
Macam-macam
Multiple Intelligent
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,
bahwasanya dalam proyek penelitian inilah gardner menemukan sembilan macam
kecerdasan majemuk (Multiple Intelegent) pada siswa, adapun kesembilan
keserdasan ini yaitu :[5]
a.
Kecerdasan
Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan berfikir dalam bentuk
kata-kata, menggunakan bahasa untuk mengepresikan dan menghargai makna yang
kompleks, kecerdasan ini lebih menekankan pada keterampilan berbahasa yang
memungkinkan proses input pengetahuan yang terjadi pada Cluster otak
bagian Lobus temporal kiri dan Lobus prontal yaitu satu area yang
bertanggungjawab terhadap kemampuan menggunakan bahasa, baik membaca, menulis,
berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat.
b.
Kecerdasan
Logis-Matematis
Kecerdasan Logis-Matematis adalah kepekaan dan kemampuan untuk
mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional.
Menurut Munif Chatib kecerdasan Logis-Matematis adalah kemampuan dalam
berhitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta
menyelesaikan operasi angka-angka.
c.
Kecerdasan
Spasial-Vasual
Kecerdasan ini merupakan cara pandang dalam
proyeksi dan kapasitas untuk berfikir dalam tiga cara dimensi. Aktivitas belajar siswa yang dominan visual idealnya menggunakan
pendekatan yang berkaitan dengan Spasi-Visual.
d.
Kecerdasan
musik
Menurut Gardner kecerdasan music merupakan benuk bakat manusia yang
paling awal muncul, Gardner menyatakan bahwa keahlian bidang musik bergantung
pada bertambahnya pengalaman hidup seseorang.
e.
Kecerdasan
Kinestetik
Siswa
yang gaya belajar kinestetik lebih nyaman belajar melalui tindakan dan praktik
langsung, gaya belajar kinestetik ini lebih senang belajarnya berada
dilingkungan tempat dia bisa memahami sesuatu lewat pengalaman nyata. Ciri gaya
belajar kinestetik adalah gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya, menggunakan
objeknya sebagai alat bantu belajar, banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh
yang baik, saat membaca menunjuk kata-katanya dengan jari tangan, unggul dalam
olahraga dan keterampilan tangan, dengan menggunakan gerakan tubuh saat
mengungkapkan sesuatu.
f.
Kecerdasan
interpersonal
Kecerdasan
interpersonal adalah kemampuan memahami dan berinteraksi dengan orang lain
secara efektif dan kemampuan mempertahankan hubungan yang sudah terjalin
sebelumnya.
g.
Kecerdasan
intrapersonal
Kegiatan
belajar mengajar kecerdasan intrapersonal menekankan pada belajar melalui
perasaan, nilai-nilai, sikap. Penekatan pendekatan kecerdasan intrapersonal
didasari dari kemampuan membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri (Self
Individu) dan menggunakan pengetahuan itu dalam merencanakan dan
mengarahkan kehidupan seseorang.
h.
Kecerdasan
naturalis
Kecerdasan
naturalis adalah kemampuan berinteraksi dengan lingkungan (flora fauna) menjaga
lingkungan dan menikmati keindahannya. Saran Amstrong sejalan dengan esensi
pendekatan kecerdasan naturalis dalam proses belajar dimana cakupan hubungan
antara manusia, flora dan fauna sebagai ekosistem natural terbangun melalui
hubungan timbal balik antara tumbuhan, hewan dan lingkungan, dimana manusia
tidak hanya menyenangi alam untuk dinikmati keindahannya tetapi juga kepedulian
untuk melestarikan alam.
i.
Kecerdasan
Eksistensial-Spiritual
Kecerdasan
eksistensial berkaitan dengan kemampuan merasakan, memimpikan dan menjadi
pemikir hal-hal yang besar. anak yang memiliki kecerdasan ini cenderung lebih
memiliki kesadaran akan hakikat sesuatu, menanyakan hal yang mungkin tidak
terfikirkan oleh anak seusianya. Kecerdasan spiritual diyakini sebagai
kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan
berbagai macam jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual itu berstandar
pada hati dan terilhami sehingga segala sesuatu yang dilakukan akan berakhir
menyenangkan. Kecerdasan spiritual dibutuhkan karena berpengaruh pada sifat
manusia sebagai pribadi dan pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun orang
lain.
2.
Kelebihan dan
Kekurangan Model Pembelajaran Multiple Intelligent
Model pembelajaran Multiple Intelligent ini mampu menjembatani
proses pembelajaran yang membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang
menyenangkan dan siswa tidak hanya diberi materi dan teori-teori semata.
Kelebihan dan kelemahan dalam Model Pembelajaran Multiple Intelligent antara
lain:[6]
a.
Kelebihan model
pembelajaran Multiple intelligent
1)
Guru dapat
menggunakan kerangka Multiple intelligent dalam melaksanakan proses
pembelajaran secara luas. Aktivitas yang bisa dilakukan seperti menggambar,
menciptakan lagu, mendengarkan musik, melihat suatu pertunjukan dapat menjadi
pintu masuk yang vital terhadap proses belajar.
2)
Dengan
menggunakan model Multiple Intelligent, guru menyediakan kesempatan bagi siswa
untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat dan talentanya.
3)
Peran serta
orang tua dan masyarakat akan semakin meningkat di dalam mendukung proses
belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa dalam
proses belajar akan melibatkan anggota masyarakat.
4)
Siswa akan
mampu menunjukkan dan berbagi tentang kelebihan yang dimilikinya. Membangun
kelebihan yang dimiliki akan memberikan suatu motivasi untuk menjadikan siswa
sebagai seorang spesialis.
5)
Pada saat guru
mengajar untuk memahami, siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang positif
dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dan memecahkan persoalan yang
dihadapinya.
b.
Kekurangan
model pembelajaran Multiple Intelligent
1)
Membutuhkan
tenaga guru yang banyak karena guru harus bekerja keras menyediakan atau
memberi peluang kepada siswa untuk mengepresikan kompetensinya pada bidang yang
diminati siswa, dan harus menumbuhkan semangat belajar siswa untuk mengetahui
dibidang apa siswa berbakat.
2)
Peran serta
orang tua dan masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat mendukung proses belajar
mengajar.
3)
Guru harus
ekstra membimbing siswa agar amu menunjukkan berbagai kelebihan yang
dimilikinya. Serta harus memberikan seatu motivasi untuk menjadikan siswa
sebagai spesialis.
4)
Pada saat guru
mengajar, guru harus benar-benar professional dalam memilih dan memilah sumber
bahan belajar agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan
meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam memecahkan persoalan yang
dihadapinya.
B.
Model
Pembelajaran Holostik Education
Kata holistik berasal dari kata whole
yang berarti menyeluruh. Pembelajaran Holistik Education adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan
topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran
holistik diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua
aspek pribadinya (pikiran tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.[7]
Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkana potensi individu
dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan,
demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik dapat diharapkan
dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh
kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang
sesusia dirinya, memperoleh kecakapan social, serta dapat mengembangkan
karakter dan emosinya. [8]
1.
Implementasi
Model Pembelajaran Holistik
Model pembelajaran holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi
yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, fisik,
artistic, kreatif, dan spiritual. Proses pembelajaran menjadi tanggungjawab
personal sekaligus juga menjadi tanggungjawab kolektif, oleh karena itu
strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana
orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan
strategi pembelajaran holistic diantaranya:
a.
Menggunakan
pendekatan pembelajaran transvormative
b.
Prosedur
pembelajaran yang fleksible
c. Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu
d. Pembelajaran yang bermakna
e. Pembelajaran melibatkan komunitas dimana
individu berada.
Di dalam pembelajaran holistik guru tidak lagi memberikan
inforamasi dalam bentuk ceramah dan buku teks. Terkait dengan materi
pembelajaran,maka materi pembelajaran tidak lagi bentuk informasi dalam bidang
studi terlepas tapi siswa akan mempelajari hubungan antar informasi. Dengan
demikian, melaui pembelajaran holostik, maka pembelajaran harus berubah menjadi
sebagai berikut:
a.
Dari belajar
mengajar ke membelajarkan
b. Dari suasana tegang ke cair menyenangkan
c. Dari kata-kata negatif ke positif
d. Dari mengatur ke memberi pilihan
e. Dari melarah ke mengarahkan
f.
Dari memerintah ke mengajak
g. Dari menyeragamkan ke keberagaman
h. Dari bicara keras ke bicara lembut
i.
Dari berpusat pada guru ke murid/anak
j.
Dari penggunaan ukuran dewasa ke pemahaman tentang anak
k. Dari pembelajaran monoton/konvensional ke
pembelajaran kreatif
l.
Dari membandingkan ke menerima perbedaan
Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry dimana anak
dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi bersama teman-temannya dan belajar
dengan cara mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai pembelajar dan mampu
mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Namun ini
tidak berarti bahwa peran guru menjadi kurang penting. Guru sebagai fasilitator
ia harus membimbing murid dalam mengusahakan informasi, melakukan seleksi
terhadap informasi yang masuk dalam jumlah besar sesuai dengan keperluannya
serta menggunakan informasi itu untuk mengembangkan dirinya. Akan tetapi pembentukan dan pendidikan guru harus mengalami
perubahan sebagai akibat perubahan peran itu.
Sebuah
pembelajaran yang holistic hanya dapat dilakukan dengan baik apabila
pembelajaran yang akan dilakukan alami-natural-nyata-dekat dengan diri anak,
dan guru melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan
baik. Selain itu juga dibutuhkan kreatifitas dan bahan-bahan/sumber yang kaya
serta pengalaman guru dalam membuat model-model yang tematis juga sangat
menentukan kebermaknaan pembelajaran.[9]
2.
Kelebihan dan
Kekurangan Model Pembelajaran Holistik
Di dalam pelaksanaannya, model pembelajaran holistik memiliki
kelebihan serta kekurangannya. Oleh karena itu, adapun kelebihan dan
kekurangannya yaitu sebagai berikut:
a.
Kelebihan model
pembelajaran holistik
1)
Model
pembelajaran ini sangat proaktif
2)
Segala sesuatu
yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan terlepas satu
sama lain
3)
Murid
dihadapkan pada masalah yang berarti dalam kehidupan manusia
4)
Pembelajaran
ini akan memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dan masyarakat
5)
Aktivitas
anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berfikir sendiri dan bekerja
sendiri, atau bekerjasama dengan kelompok
6)
Pelajaran mudah
disesuaikan dengan minat kesangggupan dan minat murid.
b.
Kekurangan
model pembelajaran holistic
1)
Tidak dapat
dipaksakan pada pembelajaran, harus diberikan dasar dahulu
2)
Memberatkan
tugas guru
3)
Tidak
memungkinkan adanya tujuan umum, sebab tidak ada unformitas disekolah-sekolah
antara satu dengan yang lainnya
4)
Pada umumnya
kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan pembelajaran ini
5)
Mudah terjadi
bentrokan antara ide dengan ide yang lain
6)
Jika model
pembelajaran ini dilakukan dengan ekstrem, dapat menyebabkan minat menjadi
lemah dan mencairkan semangat mental anak.
C.
Model
Pembelajaran Experiental Learning
Experiental Learning yang
dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal tahun 1980-an yang menekankan pada
sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiental
learning, pengalaman mempunyai peran sentral dan proses belajar. Dalam teori
experiental learning, belajar merupakan proses dimana pengetahuan diciptakan
melalui transformasi pengalaman (experience). Model pembelajaran experiental
learning merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar
yang lebih bermakna, dimana anak mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui
model ini, anak belajar tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka, hal
ini dikarenakan anak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk
di jadikan sebagai suatu pengalaman. Pengetahuan yang tercipta dari model pembelajaran ini
meruapakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.[10] Tujuan
dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara yaitu :
1. Mengubah struktur kognitif siswa
2. Mengubah sikap siswa
3.
Memperluas
keterampilan-keterampilan siswa yang sudah ada
Ketiga elemen
tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah
pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada maka kedia elemennya tidak
akan aktif. Model experiental learning memberi kesempatan kepada siswa untuk
memutuskan pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana cara
mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Belajar
melalui pengalaman mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara
langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan konsep
belajar melalui pengalaman, segala aktivitas kehidupan yang dialami individu
merupakan sarana belajar yang dapat menciptakan ilmu pengetahuan. Belajar dari
pengalaman mencangkup keterkaitan antara berbuat dan berfikir. Jika siswa
terlibat aktif dalam proses belajar, maka siswa itu akan belajar lebih baik.
Hal ini dikarenakan dalam proses belajar tersebut siswa secara aktif berfikir
tentang apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkan hasil dari proses belajar
dalam situasi nyata.
1.
Prinsip-prinsip
Model Pembelajaran Experiental Learning
Proses
belajar experiental learning merupakan kegiatan merumuskan sebuah tindakan,
mengujinya, menilai hasil, memperoleh feedback, merefleksikan, mengubah dan
mendefinisikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip yang harus
dipahami dan diikuti. Adapaun prinsip-prinsip tersebut berdasarkan teori lewin,
yaitu:
a)
Experiental
learning yang efektif akan mempengaruhi berfikir siswa, sikap dan nilai-nilai,
persepsi dan prilaku siswa.
b)
Siswa lebih
mempercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri daripada pengetahuan yang
diberikan orang lain. Menurut lewin, berdasarkan hasil ekperimen yang dia
lakukan, bahwa pendekatan belajar yang didasarkan pada pencarian dan penemuan
dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan berkomitmen mereka untuk mengimplementasikan
penemuan tersebut pada masa yang akan datang.
c)
Belajar akan
lebih efektif bila merupakan sebuah proses yang aktif. Pada saat siswa
mempelajari sebuah teori, konsep atau memperaktekkan, dan mencobanya, maka
siswa akan memahami lebih sempurna, dan mengintegrasikan dengan apa yang dia
pelajari sebelumnya serta akan dapat mengingat lebih lama. Banyak dari konsep
atau teori-teori yang tidak akan dipahami sampai siswa mencoba untuk
menggunakannya.
d)
Perubahan
hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif, dan prilaku, tetapi
secara holistik. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah system dalam proses
belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur, dan sederhana. Mengubah
salah satu dari ketiga elemen tersebut menyebabkan hasil belajar tidak efektif.
e)
Experiental
learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk mengubah kognitif, afektif,
maupun prilaku. Mengajarkan siswa untuk dapat berubah tidak berarti bahwa
mereka mau berubah. Memberikan alasan mengapa harus berubah tidak cukup
memotivasi siswa untuk berubah. Membaca sebuah
buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak cukup untuk menghasilkan
penguasaan dan perhatian pada materi, tidak cukup mengubah sikap dan
keterampilan social. Experiental learning merupakan proses belajar yang
menambahkan minat belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang
diinginkan.
f)
Mengubah
persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan sebelum
melakukan pengubahan pada kognitif, afektif, dan prilaku. Menurut lewin,
tingkah laku dan cara berfikir seorang ditentukan oleh persepsi mereka.
Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan lingkungan disekitarnya akan memperngaruhi dalam berprilaku,
berfikiran, dan merasakan.
g)
Perubahan
prilaku tidak akan bermakna bila kognitif, afektif dan perilaku itu sendiri
tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapar dikuasai atau
dipraktekkan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar terus menerus,
keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi luntur dan hilang.
2.
Kelebihan dan
Kekurangan dari Model Experiental Learning
Dalam penerapan model pembelajaran experiental learning, setiap
peserta didik memiliki berbagai macam gaya belajar yang berbeda. Tugas pendidik
yaitu mampu menguasai perbedaan gaya belajar siswa tersebut agar siswa dapat
berprestasi dalam belajar serta mendapatkan pengalaman belajar yang
menyenangkan dan juga optimal. Adapun kelebihan dan kekurangan dari Model
Pembelajaran Experiental Learning yaitu sebagai berikut:[11]
a.
Kelebihan model
pembelajaran experiental learning
1) Meningkatkan
semangat belajar siswa karena pembelajaran yang aktif
2) Membantu
terciptanya suasana belajar yang kondusif, karena pembelajaran berstandar pada
penemuan individu
3) Memunculkan
kegembiraan dalam proses belajar mengajar karena pemebelajaran yang dinamis,
terbuka dari berbagai arah
4) Mendorong
serta mengembangkan proses berfikir kreatif karena pembelajaran partisipatif
untuk menemukan sesuatu.
b.
Kekurangan model
pembelajaran experiental learning
1) Biaya
yang mahal dan memerlukan waktu yang panjang.
2) Sulit
dipahami dan dimengerti oleh pendidik sehingga belum banyak yang menerapkan
model pembelajaran ini.
[1] Rizka Amalia, Model dan Strategi Pembelajaran dalam mengembangkan multiple
Intelligences pada anak usia dini, hlm 281.
[2] Ibid, hlm 282.
[3] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple
Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai
Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 8.
[4] Beti
Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces
Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi
UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 16.
[5] Ibid,
hlm 19.
[6] Beti
Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces
Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi
UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 27.
[7]
Anhar, “Pembelajaran Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol.
3, No. 2. 2015. Hlm 34.
[8] Anhar, “Pembelajaran
Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol. 3, No. 2. 2015. Hlm
28.
[9] Herman Sanusi, “Implementasi
Pembelajaran Holistik dalam Meningkatkan Minat dan Motivasi Siswa”, Jurnal
Prosiding FKIP umma, vol. 1, 2019, hlm
27.
[10] Eva Sutriana, Deskripsi
Penerapan Model Experiental Learning dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa
Kelas X SMA Negeri 13 Sinjai.
[11] Syarifah Diva Masthura,
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Experiential dengan Pemanfaatan Media
Video Compact Disc Pada Tema Makananku Sehat dan Bergizi terhadap Peningkatan
Hasil Belajar Siswa Kelas IV MIN Jantho Aceh Besar (Skripsi Universitas Islam
Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, 2017), hlm 17.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar