Sabtu, 25 November 2023

MODEL-MODEL BELAJAR/PEMBELAJARAN

 


A.    Model Pembelajaran Multiple intelligent

Multiple Intelegent adalah sebuah teori kecerdasan yang dimunculkan oleh Dr. Howard Gardner, sebuah ahli saraf dan psikolog terkemuka dari sekolah kedokteran Boston dan Harvard Univercity pada tahun 1983. Ketika itu, Gardner merupakan Co-Director pada project zero, sebuah kelompok riset di Harvard Graduate school Of Education. Dari proyek penelitian inilah gardner menemukan kecerdasan majemuk (Multiple Intelegent). Pada awalnya, kecerdasan ini hanya terdiri dari tujuh jenis kecerdasan. Kemudian penelitian dilanjutkan dan ditemukan dua jenis kecerdasan lagi sehingga jumlahnya menjadi sembilan.[1]

Teori ini merupakan teori yang mengungkap masalah kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan majemuk. Menurut Gardrner kecerdasan selama ini lebih dimaknai secara sempit, hanya sekedar diukur dengan menggunakan tes IQ. Kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan serangkaian tes psikologis, kemudian hasil tes itu diubah menjadi angka standar kecerdasan.  Pada bukunya Frame Of Mind , gardner mengatakan bahwa kecerdasan seseorang tidak diukur dari hasil tes psikologis standar, namun dapat dilihat dari kebiasaan seseorang terhadap dua hal. Pertama, kebiasaan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri (Problem Solving). Kedua, kebiasaan seseorang menciptakan produk-produk baru yang punya nilai budaya (Creativity).[2]

Pendekatan pembelajaran Multiple Intelligent bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu unggul dibidangnya. Pendekatan Multiple Intelligent menawarkan strategi belajar yang berkenaan dengan mengolah kecerdasan yang dimiliki siswa, strategi ini mengutamakan kecerdasan siswa dalam proses belajar dengan tujuan siswa mampu memahami materi ajar dengan lebih mudah. Pendekatan pembelajaran Multiple Intelligent ini mampu membuat siswa-siswa merasa menemukan siapa diri mereka dan siapa orang-orang disekeliling mereka dan apa yang mereka butuhkan demi pencapaian target prestasi mereka.[3] Model Multiple


membantu guru menyampaikan keberadaan pembelajaran tau unit ke dalam kesempatan yang banyak melibatkan perasaan bagi siswa.

Inti dari pendekatan pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya belajarnya agar mudah ditangkap dan mudah di pahami oleh peserta didik. Pendalaman dari pendekatan pembelajaran ini akan menghasilkan kemampuan peserta didik membuat peserta didik tertarik dan berhasil dalam belajarnya dengan waktu yang relative cepat. Pendekatan Multiple Intelligent ini jika diterapkan disekolah akan berdampak lebih mudah diterima dan memotivasi peserta didik dalam belajar karena peserta didik akan lebih senang menerima pelajaran yang disampaikan oleh gurunya.[4]

1.      Macam-macam Multiple Intelligent

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwasanya dalam proyek penelitian inilah gardner menemukan sembilan macam kecerdasan majemuk (Multiple Intelegent) pada siswa, adapun kesembilan keserdasan ini yaitu :[5]

a.       Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan berfikir dalam bentuk kata-kata, menggunakan bahasa untuk mengepresikan dan menghargai makna yang kompleks, kecerdasan ini lebih menekankan pada keterampilan berbahasa yang memungkinkan proses input pengetahuan yang terjadi pada Cluster otak bagian Lobus temporal kiri dan Lobus prontal yaitu satu area yang bertanggungjawab terhadap kemampuan menggunakan bahasa, baik membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat.

b.      Kecerdasan Logis-Matematis

Kecerdasan Logis-Matematis adalah kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Menurut Munif Chatib kecerdasan Logis-Matematis adalah kemampuan dalam berhitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi angka-angka.

c.       Kecerdasan Spasial-Vasual

Kecerdasan ini merupakan cara pandang dalam proyeksi dan kapasitas untuk berfikir dalam tiga cara dimensi. Aktivitas belajar siswa yang dominan visual idealnya menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan Spasi-Visual.

d.      Kecerdasan musik

Menurut Gardner kecerdasan music merupakan benuk bakat manusia yang paling awal muncul, Gardner menyatakan bahwa keahlian bidang musik bergantung pada bertambahnya pengalaman hidup seseorang.

e.       Kecerdasan Kinestetik

Siswa yang gaya belajar kinestetik lebih nyaman belajar melalui tindakan dan praktik langsung, gaya belajar kinestetik ini lebih senang belajarnya berada dilingkungan tempat dia bisa memahami sesuatu lewat pengalaman nyata. Ciri gaya belajar kinestetik adalah gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya, menggunakan objeknya sebagai alat bantu belajar, banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh yang baik, saat membaca menunjuk kata-katanya dengan jari tangan, unggul dalam olahraga dan keterampilan tangan, dengan menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu.

f.        Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif dan kemampuan mempertahankan hubungan yang sudah terjalin sebelumnya.

g.      Kecerdasan intrapersonal

Kegiatan belajar mengajar kecerdasan intrapersonal menekankan pada belajar melalui perasaan, nilai-nilai, sikap. Penekatan pendekatan kecerdasan intrapersonal didasari dari kemampuan membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri (Self Individu) dan menggunakan pengetahuan itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.

h.      Kecerdasan naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan berinteraksi dengan lingkungan (flora fauna) menjaga lingkungan dan menikmati keindahannya. Saran Amstrong sejalan dengan esensi pendekatan kecerdasan naturalis dalam proses belajar dimana cakupan hubungan antara manusia, flora dan fauna sebagai ekosistem natural terbangun melalui hubungan timbal balik antara tumbuhan, hewan dan lingkungan, dimana manusia tidak hanya menyenangi alam untuk dinikmati keindahannya tetapi juga kepedulian untuk melestarikan alam.

i.        Kecerdasan Eksistensial-Spiritual

Kecerdasan eksistensial berkaitan dengan kemampuan merasakan, memimpikan dan menjadi pemikir hal-hal yang besar. anak yang memiliki kecerdasan ini cenderung lebih memiliki kesadaran akan hakikat sesuatu, menanyakan hal yang mungkin tidak terfikirkan oleh anak seusianya. Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan berbagai macam jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual itu berstandar pada hati dan terilhami sehingga segala sesuatu yang dilakukan akan berakhir menyenangkan. Kecerdasan spiritual dibutuhkan karena berpengaruh pada sifat manusia sebagai pribadi dan pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

2.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Multiple Intelligent

Model pembelajaran Multiple Intelligent ini mampu menjembatani proses pembelajaran yang membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan dan siswa tidak hanya diberi materi dan teori-teori semata. Kelebihan dan kelemahan dalam Model Pembelajaran Multiple Intelligent antara lain:[6]

a.       Kelebihan model pembelajaran Multiple intelligent

1)      Guru dapat menggunakan kerangka Multiple intelligent dalam melaksanakan proses pembelajaran secara luas. Aktivitas yang bisa dilakukan seperti menggambar, menciptakan lagu, mendengarkan musik, melihat suatu pertunjukan dapat menjadi pintu masuk yang vital terhadap proses belajar.

2)      Dengan menggunakan model Multiple Intelligent, guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat dan talentanya.

3)      Peran serta orang tua dan masyarakat akan semakin meningkat di dalam mendukung proses belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa dalam proses belajar akan melibatkan anggota masyarakat.

4)      Siswa akan mampu menunjukkan dan berbagi tentang kelebihan yang dimilikinya. Membangun kelebihan yang dimiliki akan memberikan suatu motivasi untuk menjadikan siswa sebagai seorang spesialis.

5)      Pada saat guru mengajar untuk memahami, siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dan memecahkan persoalan yang dihadapinya.

 

b.      Kekurangan model pembelajaran Multiple Intelligent

1)      Membutuhkan tenaga guru yang banyak karena guru harus bekerja keras menyediakan atau memberi peluang kepada siswa untuk mengepresikan kompetensinya pada bidang yang diminati siswa, dan harus menumbuhkan semangat belajar siswa untuk mengetahui dibidang apa siswa berbakat.

2)      Peran serta orang tua dan masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat mendukung proses belajar mengajar.

3)      Guru harus ekstra membimbing siswa agar amu menunjukkan berbagai kelebihan yang dimilikinya. Serta harus memberikan seatu motivasi untuk menjadikan siswa sebagai spesialis.

4)      Pada saat guru mengajar, guru harus benar-benar professional dalam memilih dan memilah sumber bahan belajar agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya.

B.     Model Pembelajaran Holostik Education

Kata holistik berasal dari kata whole yang berarti menyeluruh. Pembelajaran Holistik Education adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.[7] Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkana potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik dapat diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesusia dirinya, memperoleh kecakapan social, serta dapat mengembangkan karakter dan emosinya. [8]

1.      Implementasi Model Pembelajaran Holistik

Model pembelajaran holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, fisik, artistic, kreatif, dan spiritual. Proses pembelajaran menjadi tanggungjawab personal sekaligus juga menjadi tanggungjawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistic diantaranya:

a.       Menggunakan pendekatan pembelajaran transvormative

b.      Prosedur pembelajaran yang fleksible

c.       Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu

d.      Pembelajaran yang bermakna

e.       Pembelajaran melibatkan komunitas dimana individu berada.

Di dalam pembelajaran holistik guru tidak lagi memberikan inforamasi dalam bentuk ceramah dan buku teks. Terkait dengan materi pembelajaran,maka materi pembelajaran tidak lagi bentuk informasi dalam bidang studi terlepas tapi siswa akan mempelajari hubungan antar informasi. Dengan demikian, melaui pembelajaran holostik, maka pembelajaran harus berubah menjadi sebagai berikut:

a.       Dari belajar mengajar ke membelajarkan

b.      Dari suasana tegang ke cair menyenangkan

c.       Dari kata-kata negatif ke positif

d.      Dari mengatur ke memberi pilihan

e.       Dari melarah ke mengarahkan

f.        Dari memerintah ke mengajak

g.      Dari menyeragamkan ke keberagaman

h.      Dari bicara keras ke bicara lembut

i.        Dari berpusat pada guru ke murid/anak

j.        Dari penggunaan ukuran dewasa ke pemahaman tentang anak

k.      Dari pembelajaran monoton/konvensional ke pembelajaran kreatif

l.        Dari membandingkan ke menerima perbedaan

Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi bersama teman-temannya dan belajar dengan cara mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Namun ini tidak berarti bahwa peran guru menjadi kurang penting. Guru sebagai fasilitator ia harus membimbing murid dalam mengusahakan informasi, melakukan seleksi terhadap informasi yang masuk dalam jumlah besar sesuai dengan keperluannya serta menggunakan informasi itu untuk mengembangkan dirinya. Akan tetapi pembentukan dan pendidikan guru harus mengalami perubahan sebagai akibat perubahan peran itu.

Sebuah pembelajaran yang holistic hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami-natural-nyata-dekat dengan diri anak, dan guru melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreatifitas dan bahan-bahan/sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.[9]

2.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Holistik

Di dalam pelaksanaannya, model pembelajaran holistik memiliki kelebihan serta kekurangannya. Oleh karena itu, adapun kelebihan dan kekurangannya yaitu sebagai berikut:

a.       Kelebihan model pembelajaran holistik

1)      Model pembelajaran ini sangat proaktif

2)      Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan terlepas satu sama lain

3)      Murid dihadapkan pada masalah yang berarti dalam kehidupan manusia

4)      Pembelajaran ini akan memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dan masyarakat

5)      Aktivitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berfikir sendiri dan bekerja sendiri, atau bekerjasama dengan kelompok

6)      Pelajaran mudah disesuaikan dengan minat kesangggupan dan minat murid.

b.      Kekurangan model pembelajaran holistic

1)      Tidak dapat dipaksakan pada pembelajaran, harus diberikan dasar dahulu

2)      Memberatkan tugas guru

3)      Tidak memungkinkan adanya tujuan umum, sebab tidak ada unformitas disekolah-sekolah antara satu dengan yang lainnya

4)      Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan pembelajaran ini

5)      Mudah terjadi bentrokan antara ide dengan ide yang lain

6)      Jika model pembelajaran ini dilakukan dengan ekstrem, dapat menyebabkan minat menjadi lemah dan mencairkan semangat mental anak.

C.    Model Pembelajaran Experiental Learning

Experiental Learning yang dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal tahun 1980-an yang menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiental learning, pengalaman mempunyai peran sentral dan proses belajar. Dalam teori experiental learning, belajar merupakan proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Model pembelajaran experiental learning merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, dimana anak mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini, anak belajar tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka, hal ini dikarenakan anak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk di jadikan sebagai suatu pengalaman. Pengetahuan yang tercipta dari model pembelajaran ini meruapakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.[10] Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara yaitu :

1.      Mengubah struktur kognitif siswa

2.      Mengubah sikap siswa

3.      Memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang sudah ada

Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada maka kedia elemennya tidak akan aktif. Model experiental learning memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Belajar melalui pengalaman mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan konsep belajar melalui pengalaman, segala aktivitas kehidupan yang dialami individu merupakan sarana belajar yang dapat menciptakan ilmu pengetahuan. Belajar dari pengalaman mencangkup keterkaitan antara berbuat dan berfikir. Jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar, maka siswa itu akan belajar lebih baik. Hal ini dikarenakan dalam proses belajar tersebut siswa secara aktif berfikir tentang apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkan hasil dari proses belajar dalam situasi nyata.

1.      Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Experiental Learning

Proses belajar experiental learning merupakan kegiatan merumuskan sebuah tindakan, mengujinya, menilai hasil, memperoleh feedback, merefleksikan, mengubah dan mendefinisikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip yang harus dipahami dan diikuti. Adapaun prinsip-prinsip tersebut berdasarkan teori lewin, yaitu:

a)      Experiental learning yang efektif akan mempengaruhi berfikir siswa, sikap dan nilai-nilai, persepsi dan prilaku siswa.

b)      Siswa lebih mempercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri daripada pengetahuan yang diberikan orang lain. Menurut lewin, berdasarkan hasil ekperimen yang dia lakukan, bahwa pendekatan belajar yang didasarkan pada pencarian dan penemuan dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan berkomitmen mereka untuk mengimplementasikan penemuan tersebut pada masa yang akan datang.

c)      Belajar akan lebih efektif bila merupakan sebuah proses yang aktif. Pada saat siswa mempelajari sebuah teori, konsep atau memperaktekkan, dan mencobanya, maka siswa akan memahami lebih sempurna, dan mengintegrasikan dengan apa yang dia pelajari sebelumnya serta akan dapat mengingat lebih lama. Banyak dari konsep atau teori-teori yang tidak akan dipahami sampai siswa mencoba untuk menggunakannya.

d)      Perubahan hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif, dan prilaku, tetapi secara holistik. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah system dalam proses belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur, dan sederhana. Mengubah salah satu dari ketiga elemen tersebut menyebabkan hasil belajar tidak efektif.

e)      Experiental learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk mengubah kognitif, afektif, maupun prilaku. Mengajarkan siswa untuk dapat berubah tidak berarti bahwa mereka mau berubah. Memberikan alasan mengapa harus berubah tidak cukup memotivasi siswa untuk berubah. Membaca sebuah  buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak cukup untuk menghasilkan penguasaan dan perhatian pada materi, tidak cukup mengubah sikap dan keterampilan social. Experiental learning merupakan proses belajar yang menambahkan minat belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang diinginkan.

f)       Mengubah persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan sebelum melakukan pengubahan pada kognitif, afektif, dan prilaku. Menurut lewin, tingkah laku dan cara berfikir seorang ditentukan oleh persepsi mereka. Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan lingkungan disekitarnya  akan memperngaruhi dalam berprilaku, berfikiran, dan merasakan.

g)      Perubahan prilaku tidak akan bermakna bila kognitif, afektif dan perilaku itu sendiri tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapar dikuasai atau dipraktekkan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar terus menerus, keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi luntur dan hilang.

2.      Kelebihan dan Kekurangan dari Model Experiental Learning

Dalam penerapan model pembelajaran experiental learning, setiap peserta didik memiliki berbagai macam gaya belajar yang berbeda. Tugas pendidik yaitu mampu menguasai perbedaan gaya belajar siswa tersebut agar siswa dapat berprestasi dalam belajar serta mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan juga optimal. Adapun kelebihan dan kekurangan dari Model Pembelajaran Experiental Learning yaitu sebagai berikut:[11]

a.       Kelebihan model pembelajaran experiental learning

1)      Meningkatkan semangat belajar siswa karena pembelajaran yang aktif

2)      Membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif, karena pembelajaran berstandar pada penemuan individu

3)      Memunculkan kegembiraan dalam proses belajar mengajar karena pemebelajaran yang dinamis, terbuka dari berbagai arah

4)      Mendorong serta mengembangkan proses berfikir kreatif karena pembelajaran partisipatif untuk menemukan sesuatu.

b.      Kekurangan model pembelajaran experiental learning

1)      Biaya yang mahal dan memerlukan waktu yang panjang.

2)      Sulit dipahami dan dimengerti oleh pendidik sehingga belum banyak yang menerapkan model pembelajaran ini.



[1] Rizka Amalia, Model dan Strategi Pembelajaran dalam mengembangkan multiple Intelligences pada anak usia dini, hlm 281.

[2] Ibid, hlm 282.

[3] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 8.

[4] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 16.

[5] Ibid, hlm 19.

[6] Beti Rahmalia Putri, Implementasi Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligensces Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Kelas X SMA N 01 Sungai Selatan, (Skripsi UIN Raden Intan Lampung,2020), hlm 27.

[7] Anhar, “Pembelajaran Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol. 3, No. 2. 2015. Hlm 34.

[8] Anhar, “Pembelajaran Holistik dalam Mata Pelajaran PAI”, Jurnal Logaritma, Vol. 3, No. 2. 2015. Hlm 28.

[9] Herman Sanusi, “Implementasi Pembelajaran Holistik dalam Meningkatkan Minat dan Motivasi Siswa”, Jurnal Prosiding FKIP umma, vol. 1, 2019,  hlm 27.

[10] Eva Sutriana, Deskripsi Penerapan Model Experiental Learning dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 13 Sinjai.

[11] Syarifah Diva Masthura, Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Experiential dengan Pemanfaatan Media Video Compact Disc Pada Tema Makananku Sehat dan Bergizi terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IV MIN Jantho Aceh Besar (Skripsi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, 2017), hlm 17.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM

  A.     Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan dalam bahasa Latin disebut   educare, secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia...