A. Pengertian
Teknologi Pendidikan
Istilah teknologi berasal dari
bahasa yunani. yunani technologia yang menurut webster dictionary berarti
sistematic tretment atau penangganan sesuatu secara sistematis, sedangkan
techane sebagai dasar kata teknologi berarti art, skill, science atau keahlian,
keterampilan, ilmu. Sedangkan, pendidikan
merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan dan mengarahkan manusia
untuk berfikir kritis dan idealis. Pendidikan bisa juga disebut mata rantai
dalam kehidupan. Jika pendidikan tidak berjalan dengan semestinya, maka hal ini
akan sangat berpengaruh bagi kehidupan bangsa. Pendidikan berperan penting
untuk mengembangkan manusia secara holistik baik dalam aspek pengetahuan,
keterampilan, maupun sikap guna mempersiapkan manusia menjadi individu yang
mampu memberikan manfaat dan berkontribusi secara berkelanjutan.[1]
Jadi teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai pegangan atau
pelaksanaan pendidikan secara sistematis, menurut sistem tertentu yang akan
dijelaskan.
Teknologi pendidikan dituntut untuk mengembangkan dan mencari alternatif baru agar setiap orang semakin mudah dan efektif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Teknologi pendidikan merupakan bidang ilmu yang merekomendasikan berbagai alternatif pemecahan permasalahan pembelajaran dan pendidikan, baik pada pendidikan formal, nonformal, dan informal. Teknologi pendidikan sebagai suatu bidang ilmu tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan dari bidang ilmu lainnya untuk memaksimalkan fungsi teknologi pendidikan itu sendiri. Teknologi Pendidikan sangat penting di negara berpenduduk padat seperti Indonesia di mana pendidikan massal sangat diminati dengan sumber daya yang terbatas. Teknologi pendidikan merupakan syarat utama untuk model belajar-mengajar formal, informal maupun nonformal.[1]
Teknologi Pendidikan sangat penting di negara
berpenduduk padat seperti Indonesia di mana pendidikan massal sangat diminati
dengan sumber daya yang terbatas. Teknologi pendidikan merupakan syarat utama
untuk model belajar-mengajar formal, informal maupun nonformal.[1]
Secara operasional, teknologi pendidikan dapat
dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah
belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu
pertama yang sistemik atau beraturan, dan kedua yang sistemik atau beracuan
pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan yang dilakukan dengan langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri
terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasikan kemungkinan
pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria
pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan
mengujicobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan dan
mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya.
Teknologi pendidikan adalah proses
yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan
organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan masalah,
melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut
semua aspek belajar manusia. teknologi pendidikan pada dasarnya lahir dan
berkembang dari pemikiran dan keinginan masyarakat (khususnya pendidik) agar
pendidik dan pembelajaran (pengetahuan, keterampilan serta nilai dan sikap)
dapat diberikan dengan mudah dan efektif kepada peserta didik khususnya, dan
manusia umumnya. Dilain pihak ada pendapat bahwa teknologi pendidikan adalah
pengembangan, penerapan dan penilain sistem-sistem, teknik, dan alat bantu
untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia.
Teknologi pendidikan tidak hanya
sekadar penerapan teknologi dalam pendidikan (penerapan berbagai peralatan yang
canggih dalam kegiatan pendidikan), tetapi teknologi pendidikan harus mengkaji
dan menelaah berbagai aspek, baik dari aspek kemanusiaan maupun dari aspek
sosial dan kemasyarakatannya, serta mengkaji dampak dari penerapan teknologi
pendidikan itu sendiri. Pada hakikatnya teknologi pendidikan adalah suatu
pendekatan yang sistematis dan kritis tentang pendidikan. teknologi pendidikan
memandang soal mengajar dan belajar sebagai masalah atau problema yang harus
dihadapi secara rasional dan ilmiah.
B. Ruang Lingkup
Teknologi Pendidikan
Ruang lingkup teknologi pendidikan mencakup beberapa wilayah atau kawasan yang akan semakin berkembang dan meluas. Hal ini dikarnakan teknologi akan semakain mengalami perkembangan yang signifikan yang mengakibatkan pendidikan dan disiplin ilmu lainya yang relevan sebagai landasan teknologi pembelajaran juga akan mengalami perkembangan. teknologi pendidikan maka ruang lingkup teknologi pendidikan tersebut adalah desain pembelajaran, pengembangan, media, proses pembelajaran, dan penilaian. Beberapa penjelasan tentang ruang lingkup teknologi pendidikan dijabarkan sebagai berikut:[1]
1.
Wilayah
Desain
Yang dimaksud dengan desain di sini adalah proses untuk menentukan
kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Kawasan
desain paling tidak meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu:
desain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan
karakteristik pembelajar.
a)
Desain
sistem pembelajaran
Meliputi langkah-langkah diantaranya: 1) penganalisaan (proses perumusan
apa yang akan dipelajari) 2) perancanagan (proses penjabaran bagaimana cara
mempelajarinya), 3) pengembangan (proses penulisan atau produksi bahanbahan
pelajaran), 4) pelaksanaan atau aplikasi (pemanfaatan dan strategi), 5)
penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran).
b)
Desain
pesan
Desain pesan adalah: ”perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari
pesan”, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima dengan
memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi dan daya tangkap.
Karakteristik yang lain dari desain pesan adalah harus bersifat spesifik, baik
tentang media maupun tugas belajarnya. Desain pesan akan berbeda tergantung kepada
jenis medianya, apakah bersifat statis atau dinamis. Pembentukan konsep, pengembangan
sikap, pengembangan keterampilan, strategi belajar atau hafalan.
c)
Strategi
pembelajaran
Strategi Pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta
mengurutkan peserta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan belajar dalam
suatu pelajaran. Teori tentang strategi pembelajaran meliputi situasi
belajar,dan komponen belajar dan mengajar.
d)
Karakteristik
siswa.
Segi-segi latar belakang pengalaman pembelajar yang mempengaruhi terhadap
efektivitas proses belajarnya. Secara psikologis yang perlu diperhatikan dari
karakteristik pembelajar ialah kemampuan yang bersifat potensial maupun
kecakapan nyata, dan kepribadiannya seperti: sikap,emosi, motivasi, dan aspek
kepribadian lain.
2.
Wilayah
Pengembangan
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam
bentuk fisik, di dalamnya meliputi: teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi
berbasis komputer, dan teknologi terpadu.
a)
Teknologi
Cetak
Cara untuk membuat atau menyampaikan bahan pelajaran, seperti buku, bahan
visual yang statis terutama melalui pencetakan mekanis atau photografis.
b)
Teknologi
Audiovisual
Merupakan cara membuat dan menyampaikan bahan pelajaran dengan
menggunakan peralatan dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.
c)
Teknologi
Berbasis Komputer
Teknologi berbasis komputer merupakan cara-cara membuat dan menyampaikan
bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor.
d)
Teknologi
Terpadu
Merupakan cara terpadu untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan
memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer.
3.
Wilayah
Media
Wilayah media dalam teknologi pendidikan adalah aktivitas menggunakan
proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena
membicarakan kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.
a)
Pemanfaatan
media
Menggunakan yang sistematis dari sumber untuk belajar. Misalnya,
bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindak lanjuti dan dipolakan sesuai
dengan bentuk belajar yang diinginkan.
b)
Divusi
Inovasi
Divusi inovasi adalah Proses berkomunikasi melalui strategi yang
terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah
untuk terjadinya perubahan.
c)
Implimentasi
dan Institusionalisasi
Implementasi adalah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam
keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasi). Sedangkan institusionalisasi
penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu
struktur atau budaya organisasi. Untuk menilai pemanfaatan harus ada
implimentasi. Bidang implimentasi dan institusioanal didasarkan pada
penelitian, tujuan implimentasi adalah menjamin penggunaan yang benar oleh individu
dalam organisasi. Jadi implementasi dan institusionalisasi tergantung pada
perubahan individu maupun organisasi.
d)
Kebijakan
dan Regulasi
Aturan dan tindakan yang mempengaruhi difusi dan pemanfaatan teknologi
pembelajaran. Kebijakan dan peraturan pemerintah mempengaruhi pemanfaatan
teknologi. Kebijakan dan regulasi biasanya dihambat oleh permasalahan etika dan
ekonomi.[1]
4.
Wilayah
Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui:
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan
pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan
media. Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli
media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan
non cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumbersumber teknologi dalam
kurikulum.
a)
Pengelolaan
proyek
Pengelolaan proyek meliputi perencanaan, monitoring dan pengendalian
proyek desain dan pengembangan.
b)
Pengelolaan
sumber
Pengelolaan sumber mencakup perencanaan, pemantauan dan pengendalian
system pendukung dan pelayanan sumber.pengertian sumber dapat mencakup
personil, keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas dan sumber pembelajaran.
c)
Pengelolaan
sistem penyampaian
Meliputi perencanaan, pemantauan, pengendalian, “cara pendistribusian
bahan pembelajaran diorganisasikan. Hal tersebut merupakan suatu gabunagan
medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran
kepada pelajar.
d)
Pengelolaan
informasi
Meliputi perencanaan, pemantauan dan pengendalian cara menyimpan, pengiriman/pemindahan
atau pemrosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar.
Pengelolaan informasi penting untuk memberikan akses dan keakraban revolusi kurikulum
dan aplikasi desain pembelajaran. Pengelolaan sistem penyimpanan informasi untuk
tujuan pembelajaran tetap akan merupakan komponen penting dari bidang teknologi
pembelajaran.
5.
Wilayah
Penilaian
Penilaian dalam pengertian yang paling luas adalah aktivitas manusia
sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menakar nilai aktivitas atau
kejadian berdasarkan kepada sistem penilaian tertentu. Penilaian merupakan
proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar, mencakup analisis
masalah, pengukuran acuan patokan, penilaian formatif, dan penilaian sumatif.
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan
memiliki ruang lingkup yang sangat luas, sebagaimana juga luasnya pemahaman
tentang konsep pendidikan itu sendiri. Tercakup didalamnya berbagai aspek yang
berbeda mulai dari perencanaan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan
penilaian untuk mendukung pendidikan modern. Dengan demikian, pemahaman yang
luas tentang teknologi pendidikan sangat penting bagi seorang pengajar atau
pendidik guna terwujudnya tujuan pendidikan yang diinginkan.
C. Sejarah
Teknologi Pendidikan
Kaum sufi
sekitar 500 tahun sebelum masehi dikenal sebagai kaum “penjual ilmu
pengetahuan” yang berarti orang yang memberikan Pelajaran mendapatkan upah.[1] Mereka
juga bisa dikatakan sebagai nenek moyang teknologi pendidikan. Selain itu,
adanya kebiasaan yang dilakukan kaum sufi ini seperti menggunakan jubah untuk
menarik perhatian dalam hal ini sekarang berkembang menjadi toga. Selain itu
juga pembelajaran mereka menggunakan mimbar. Dari kebiasaan yang terdapat di
kaum sufi ini juga lah menjadi dasar sehingga mereka disebut sebagai nenek
moyang teknologi pendidikan.
Di Amerika
serikat teknologi pendidikan sebenarnya sudah ada sejak lama.[2]
Hal ini dikarenakan terdapat penemuan dahulu yang menggunakan alat sederhana
dalam pembelajaran, contohnya seperti penggunaan batu, kulit kayu, kulit
Binatang, dan lain sebagainya. Semua hal ini merupakan mulainya terbentuk
adanya cikal bakal teknologi pendidikan. Para pakar pendidikan berkeinginan
untuk menjadikan pembelajaran yang ada di dunia pendidikan menjadi efektif dan
efesien. Maka dari itu mereka mencari cara untuk mendapatkan solusi sehingga
pendidikan akan terus berkemabang dari masa ke masa. Dari percobaan dan
penelitian yang dilakukan oleh individu maupun kelompok professional inilah
kemudian membentuk sebuah kesepakatan untuk mendirikan suatu bidang studi yang
dinamakan teknologi pendidikan.
Pada awal tahun
1900-an kegiatan dalam bidang pembelajaran dalam suatu pendidikan terlaksana
secara terbatas. Keterbatasan ini dapat dilihat dari penggunaan papan tulis,
media cetak seperti buku, serta audio dan visual sebagai alat dalam
terlaksananya suatu pembelajaran. Kegiatan tersebut mengarah pada berfariasinya
pengalaman belajar peserta didik saat tatap muka. Jadi penggunaan media
pembelajaran yang bermacam ini memudahkan pembelajar untuk memahami ide atau
gagasan yang disampaikan dalam proses pendidikan. Sehingga pendidikan bukan
hanya terfokus pada pendengan saja namun juga penglihatan.
Sepuluh tahun
kemudian berkembanglah penggunaan siaran radio dan televisi, dimana dalam hal
ini radio dan televisi bukan hanya digunakan dalam dunia pendidikan namun juga
di luar arena pendidikan. Pada tahun 1920-1930 an ini telah dimulai
pengembangan dan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan yang bukan hanya
saja sebagai keperluan sebagai alat komunikasi dan penghibur juga digunakan
dalam pendidikan. Pada tahun ini penggunaan teknologi dalam pendidikan yakni
penggunaan gambar sorot dan film slide.
Dan pada tahun
1970-an terjadinya perkembangan teknologi pendidikan yang pesat, yang ditandai
dengan munculnya konsep desain system pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran
sudah dilakukan secara menyeluruh terhadap komponen system pembelajaran serta
teknologi dijadikan sebagai cara menjadikan yang efektif dan efisien.
Dan kemudian
pada tahun 1990-an muncullah computer yang digunakan sebagai pembelajaran yang
interaktif melalui jaringan komunikasi.
Kemudian bermuncullah alat komunikasi lainnya seperti leptop, smart phone,
tablets dan lain sebagainya yang digunakan saat pembelajaran di dunia
pendidikan. Alat-alat tersebut sangat efesien dalam penggunaannya dikarenakan
alat tersebut mudah dibawa dan juga memiliki banyak fungsinya. Dengan
berkembangnya alat komunikasi yang dapat memudahkan dalam berkomunikasi jarak
dekat maupun jauh, maka saat ini jika pendidikan tidak menggunakan teknologi dikatakan
ketinggalan oleh zaman.[3] Hal
ini dikatakan demikian dikarenakan sekarang adalah zaman yang pesat dengan
perkembangan teknologi, dan alat komunikasi semakin pesat perkembagannya dan
semakin canggih. Dan hampir seluruh manusia saat ini tidak terlepas dari
teknologi. Walaupun demikian, teknologi dalam pendidikan hanyalah sebagai alat
fasilitator dalam pembelajaran, sehingga teknologi yang ada seharusnya
digunakan dengan tetap sasaran dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diinginkan. Handphone, leptop, dan alat komunikasi yang terhubung dengan
internet sekarang ini juga merupakan bentuk dari adanya teknologi pendidikan.
Sekarang ini kehidupan tidak terlepas dari adanya teknologi oleh karena itu
pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja maupun jarak yang jauh
tidak akan menjadi halangan untuk tetap melaksanakan pendidikan.
D. Prinsip-Prinsip Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan lahir dari
adanya permasalahan dalam suatu pendidikan. Permasalahan pendidikan yang muncul
saat ini, mencakup pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, relevensi, dan
efesiensi pendidikan dan peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Permasalahan
serius yang masih dirasakan oleh pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan
tinggi adalah masalah kualitas, tentu saja hal ini dapat dipecahkan melalui
pendekatan teknologi pendidikan. Oleh karena itu, Ada tiga prinsip dasar yang
dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran,
yaitu:[1]
1.
Pendekatan sistem (system
approach), yaitu cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan
permasalahan, artinya memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang menyeluruh
dengan segala komponen yang saling melekat. Dalam pendekatan
sistem ini, pendidik harus memahami bahwa untuk menciptakan pengalaman
pembelajaran yang utuh menggunakan teknologi dalam pendidikan, melibatkan
berbagai komponen seperti materi pembelajaran, platform online, aktivitas
interaktif, serta metode evaluasi. Yang mana ke semua komponen ini saling
berhubungan dan bekerjasama satu dengan yang lainnya.
2. Berorientasi
pada peserta didik (learner centered), bahwa usaha-usaha pendidikan,
pembelajaran dan pelatihan harusnya memusatkan perhatiannya pada peserta didik.
Dengan pendekatan berorientasi pada siswa ini, diharapkan siswa dapat belajar
sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar mereka sendiri dengan efektif. Ini
juga membantu siswa yang lebih cepat berkembang agar tetap tertantang serta
siswa yang memerlukan lebih banyak bantuan untuk mendapatkan dukungan yang
diperlukan.
3. Prinsip
pemanfaatan sumber daya pembelajaran dengan maksimal dan beragam (utilizing
learning resources), peserta didik belajar karena berinteraksi dengan berbagai
sumber belajar secara maksimal dan bervariasi. Ini melibatkan penggunaan
berbagai sumber daya seperti materi pembelajaran digital, perangkat lunak
pendukung, dan interaksi daring guna menciptakan pengalaman belajar yang
menarik dan bervariasi. Melalui penerapan prinsip-prinsip dasar ini, teknologi
pendidikan dapat diarahkan untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang
lebih holistik, adaptif, dan berdampak positif bagi perkembangan pendidikan
secara keseluruhan.
Adapun
apabila seorang tenaga pendidik mengabaikan salah satu dari prinsip-prinsip
pengembangan dan pemanfaatan teknologi pendidikan tersebut, maka hal tersebut
akan nantinya berdampak pada ketidakoptimalan hasil belajar yang diinginkan
atau bahkan tidak akan tercapainya tujuan dari pembelajaran yang diharapkan.
[1] Unik Hanifah Salsabila and Niar Agustian, “Peran Teknologi
Pendidikan Dalam Pembelajran,” Islamika : Jurnal Keislaman Dan Ilmu
Pendidikan Volume 3, no. Nomor 1 (January 2021), hlm.123–33.
[1] sukiman, Teknologi Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: CV.
SIGMA, 2015), hlm.13.
[2] Edi Subkhan, Sejarah Dan Paradigma Teknologi Pendidikan Untuk
Perubahan Sosial (Jakarta: Kencana, 2016), hlm.2.
[3] Atwi Suparman, “Konsep Dasar Teknologi Pendidikan” (modul, 2019).
[1] Ahmad Budiyono, “Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan Agama Islam Di
Era Indrustri 4.0,” Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Volume 15,
Nomor 1, (March 2019), hlm.64–74.
[1] Salekun and Ahmad Shofiyuddin, “Teknologi Pendidikan Ruang Lingkup
Dan Telaah Dalam Perspektif Pendidikan Islam,” Jurnal Pendidikan Dan
Keislaman, Vol. 1, No. 2, (November 2021), hlm.70–77.
[1] Unik Hanifah Salsabila and dkk, “Peran Teknologi Pendidikan Dalam
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Di Era Disrupsi,” Journal on Education
Volume 03, No. 01 (Desember 2020), hlm.105–106.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar