Minggu, 26 November 2023

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM

 


A.    Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan dalam bahasa Latin disebut  educare, secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia pertanian dikenal istilah educare yangberarti menyuburkan; mengolah tanah menjadi subur agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Dengan demikian, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha mempersiapkan peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi dalam menjalani kehidupannya.

Selanjutnya yaitu kata karakter, dalam kamus Poewadaminta sebagaimana dikutip oleh Abdul Madjid dan Dian Andayani, karakter diartikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat, akhlak, dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Adapun menurut Kamus Populer Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai wata, tabi’at, Pembawaan, kebiasaan. Sedangkan secara terminologi, istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari factor kehidupannya sendiri. Karaker adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.

Pendidikan karakter merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam memfasilitasi dan membantu peserta didik untuk mengetahui hal-hal yang baik dan luhur, mencintainya, memiliki kompetensi intelektual, berpenampilan menarik, dan memiliki kemauan yang keras untuk memperjuangkan kebaikan dan keluhuran serta dapat mengambil keputusan secara bijak, sehingga ia mampu memberikan kontribusi positif dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, hakikat pendidikan karakter adalah pendidikan nilai yang membantu dan memfasilitasi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang manjadi manusia paripurna (insan kamil).

Secara operasional pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai standar kompetensi luliusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan


menginternalisasi serta mempersonalisaisi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia, sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari.[1]

 

B.     Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Pendidikan karakter pertama kali diperoleh oleh anak ada di dalam lingkungan keluarga, orang tua menjadi pendidik karakter anak di dalam keluarga. Sesudah itu, sekolah dapat memainkan peran signifikan dalam pengembangan karakter, sebagai kelanjutanpengembangan karakter yang diterima anak dari keluarga. Sekolah mendukung iswa dalam seluruh kehidupan pendidikan yang akan diperoleh dan dialami. Sekolah berusaha menciptakan lingkungan sehingga siswa merasa aman, nyaman, diterima dan dididik akan prilaku bertanggung jawab, teliti, yang nantinya akan menjadi bagian  masyarakat yang produktif. Untuk mencapai serta memfokuskan pada pengembangan dan peningkatan pendidikan karakter di sekolah, salah satu ruang atau basis terselenggaranya proses pembelajaran karakter adalah basis kelas.

Kelas merupakan salah satu bagian dari seluruh proses kehidupan pendidikan maupun pembelajaran yang ada di sekolah. Secara tradisional di dalam kelas terjadi pembelajaran, baik oleh siswa maupun guru. Meskipun demikian, ketika sekolah ingin mengembangkan karakter siswanya, maka seluruh lingkungan sekolah dapat dijadikan sebuah kelas itu sendiri sebagai sarana pengembangan karakter.  Ruang kelas bukan hanya sebagai ruang mendapat pengetahuan atau prestasi akademis, tetapi juga merupakan ruang pengembangan dan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter yang dikembangkan dalam kelas sama penting dan berguna seperti mata pelajaran lainnya, karena bila mengutamakan pengetahuan tidak akan menjamin hadirnya pribadi yang baik untuk  generasi berikutnya. Keraguan atau kecurigaan akan adanya hambatan yang akan dialami siswa dalam meraih keberhasilan prestasi secara akademis, yang diakibatkan oleh adanya perhatian yang seimbang kepada karakter, tidaklah tepat. Justru dengan adanya pendidikan karakter yang mengimplementasikan dalam babsis kelas mempengaruhi seluruh wilayah pembelajaran di dalam kelas serta semakin menolong siswa lebih fokus dan menyelesaikan pelajaran dan memperoleh hasil dengan baik. Selain itu juga, pendidikan karakter berbasis kelas menolong siswa berinteraksi dengan para guru dan siswa lainnya seharusnya, menciptakan kelas menjadi lingkungan yang semakin baik dan berkarakter.[2]

Dengan mengintegrasikan atau memadukan karakter pada seluruh dimensi proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, diharapkan mencapai suatu keseimbangan. Pendidikan karakter berbasis kelas mengubah proses pembelajaran yang tadinya lebih banyak berorientasi atau memfokuskan pada mata pelajaran, akademis maupun prestasi, sekarang menjadi sama berorientasi atau memberi  perhatian yang sama dengan karakter. Pertumbuhan karakter dan pertumbuhan karakter dan pertumbuhan akademis yang  berlangsung dalam kelas ibarat dua sisi sebuh koin, karena generasi berikutnya dari bangsa ini dapat kita lihat pada wajah-wajah siswa yang ada dan hadir dalam kelas, serta menjalani kehidupan dan berinteraksi di dunia. Pendidikan karakter berbasis kelas tidak hanya menolong siswa berhasil di dalam kelas tetapi juga dalam kehidupan yang akan mereka menjalani di luar kelas. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter berbasis tergantung dengan bagaimana perspektif dan peran guru dalam merancang kelas menjadi sebuah kelas yang terbuka positif, kelas yang bermuatan karakter.

1.      Peran Guru dalam Pendidikan karakter Berbasis Kelas.

Peran guru merupakan salah satu strategi kuci untuk mengembangkan pendidikan karakter berbasis kelas. Guru semestinya menciptakan kondisi kelas dengan nilai-nilai karakter yang dipraktikkan, sehingga siswa merasa aman dan nyaman meniru nilai-nilai yang dipraktikkan tersebut. Guru berperan menyatukan nilai-nilai pendidikan karakter dalan rencana pelajaran sehari-hari dan mendemonstrasikannya pada bergam situasi dan kondisi, untuk menghindari dari terjadi pengulangan dari tahun ke tahun, secara berkelanjutan guru merevisi pelajaran mereka untuk tetap menjaga konsistensi nilai-nilai karakter bermakna dan relevan bagi siswa.  Ada Sembilan strategi untuk guru dalam mengembangkan karakter berbasis kelas, yaitu:[3]

a.       Guru sebagai caregiver,  moral model, dan moral mentor.

Di dalam kelas, seperti di dalam keluarga, guru menjadi role model bagi siswa sepanjang hari, setiap hari. Dampak moral guru bagi siswa sangat tergantung pada kualitas relasi guru dengan siswa. Dalam menjalin relasi dengan siswa, seorang guru dapat menggunakan pengaruh moral positif pada tiga cara, yaitu menghargai dan peduli kepada siswa, menjadi teladan yang baik, serta memberikan tuntunan moral.

b.      Membangun sebuah komunitas kelas yang peduli.

Guru dapat mengambil langkah-langkah untuk membangun sebuah komunitas kelas yang peduli dengan monolong siswa; mengenal setiap siswa sebagai pribadi, menghargai, perhatian/peduli, dan menguatkan satu dengan lain, dan merasa dihargai sebagai anggota dalam kelompok. Seorang siswa memounyai dua atau tiga pelajaran  tentang kebaikan, kemungkinan menjadi baik; seorang siswa yang memberlakukan kebaikan setiap saat akan memperoleh nilai karakter tersebut.

c.       Disiplin moral

Disiplin semestinya menolong siswa dalam mengembangkan moral, disiplin diri, dan menghormati orang lain. Ketika aturan-aturan diterapkan semestinya siswa melihat standar moral di belakang aturan-aturan tersebut. Perlu dijelaskan kepada siswa bahwa mengikuti aturan itu merupakan hal benar yang dilakukan karena tersebut menghargai hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan yang lain.

d.      Membangun lingkungan kelas yang demokratis.

Dalam mewujudkan hal tersebut, berarti melibatkan siswa lebih komitmen dan berbagi dalam mengambil keputusan sehingga meningkatkan tanggungjawab mereka menjadikan kelas sebuah tempat yang baik untuk belajar. Didalam membangun lingkungan kelas yang demokratis, keahlian guru perlu dilatih terutama melalui sifat meyakinkan dan tanggungjawab organisasi didalam memetakan pertahanan kondisi demokratis.

e.       Mengajarkan nilai melaui kurikulum/mata pelajaran.

Guru seharusnya melihat kurikulum/mata pelajaran dan bertanya: “pertanyaan-pertanyaan moral dan pelajaran karakter apa yang sudah ada di dalam mata pelajaran yang saya ajarkan? Bagaimana saya dapat menyusun pertanyaan-pertanyaan dan pelajaran tersebut menjadi penting bagi siswa saya?”

f.        Belajar kerjasama

Belajar kerja sama perlu dikembangkan di dalam pembelajaran, khususnya yang terkait dengan kompetensi karakter social dan moral. Kebiasaan-kebiasaan mempertimbangkan perspektif orang lain, kemampuan bekerja sebagai sebuah tim, serta menghargai keberadaan dan situasi orang lain diberikan bersamaan saat siswa mempelajari materi akademis. Beberapa studi mengatakan bahwa pelajaran yang berbentuk kerjasama dalam kelompok 3 atau 4 orang akan meningkatkan pencapaian dan memperkuat empati, persahabatan dan apresiasi satu dengan yang lainnya.

g.      The Conscience of craft

Apa yang kita kerjakan tentu akan berdampak bagi orang lain. Salah satu yang paling penting adalah mendengarkan suara hati untuk melakukan hal yang baik. Guru menolong siswa mengembangkan karakter dengan menentukan, contoh tugas dan tanggungjawab melalui pengajaran mereka, sekaligus mengkombinasikan harapn yang tinggi disertai dengan dukungan yang tinggi pula, serta menyediakan sebuah kurikulum yang mempertemukan seluruh siswa dalam kelas, dan memberikan tugas yang bermakna.

h.      Refleksi etis

Ini merupakan salah satu strategi mengembangkan kualitas sisi kognitif karakter. Tujuan khususnya adalah mengajarkan siswa tentang apa itu nilai, bagaimana memperaktikkan kebiasaan nilai karakter yang dilakukan akan menuntun kehidupan siswa, serta memberikan penjelasan untuk setiap alasan pengembangan karakter.

i.        Mengajarkan penyelesaikan konflik

Mengajarkan siswa tentang bagaimana menyelesaikan konflik tanpa paksaan atau intimidasi merupakan bagian penting dari pendidikan karakter untuk dua alasan. (a) konflik-konflik yang tidak diselesaikan dengan adil akan mencegah atau mengikis sebuah komunitas moral yang ada di dalam kelas, dan (b) tanpa memperlengkapi soswa menyelesaikan konflik, maka siswa akan gagal dalam berelasi interpersonal dan akan berkontribusi terhadap kekerasan di sekolah dan masyarakat.

 

Selain mengembangkan kehidupan moral di dalam kelas yang dilakukan guru, pendekatan komprehensif yang dapat dilakukan sekolah sebagai keseluruhan adalah:[4]

a.       Mengembangkan rasa peduli melalui kelas, menggunakan model pasif untuk menginspirasi perilaku altruistic dan menyediakan kesempata-kesempatan di setiap tingkat pendidikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunitas sekolah.

b.      Menciptakan sebuah kultur moral  yang positif disekolah

c.       Melibatkan orang tua dan komunitas dalam pendidikan karakter.

 

2.      Peran Siswa dalam Pendidikan Berbasis Kelas

Selain guru yang memiliki peran dalam pendidikan karakter berbasis kelas, siswa juga dapat berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis kelas bagi teman-teman sebaya di kelas. Oleh karena itu, ada dua peran yang dapat dilakukan oleh siswa yaitu:

a.       Siswa sebagai role model

Lingkungan pembelajaran di dalam kelas memungkinkan munculnya   model-model yang saling bersinggungan atau berkonflik, dan pola-pola prilaku yang disruptif. Oleh karena itu, guru mempersiapkan kepemimpinan siswa serta membagikan kepemimpinan kepada siswa.

b.      Siswa sebgai controller

Siswa memiliki pengendalian terhadap karakter individual maupun siswa lainnya. Rasa tanggungjawab menjadi hal yang dibutuhkan bila ingin memperoleh hasil atau dampak yang positif. Rasa tanggungjawab ini akan muncul ketika siswa diberikan sebuah situasi yang membutuhkan tanggungjawab. Rasa tanggungjawab ini mungkin terasa lambat, namun memiliki dampak yang lama. Siswa dapat mengendalikan diri mereka melalui keinginan untuk terus belajar. Betul bahwa tujuan utama siswa di sekolah adalah belajar, tetapi harus memberi perhatian, menemukan rasa tanggungjawab tersebut, dan meniru contoh-contoh tauladan yang mereka lihat di kelas. Siswa juga dapat mengendalikan prilaku siswa lain dengan dua cara. Pertama, siswa- siswa menunjukkan model prilaku karakter yang dapat ditiru oleh siswa-siswa yang lain. Kedua, siswa-siswa menggunakan tekanan kepada siswa-siswa yang lain supaya sesuai dengan kelompok. Tekanan-tekanan itu bersifat halus dan transparan.

 

C.    Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

Salah satu model implementasi pendidikan karakter adalah berbasis kultur sekolah. Pemahaman tentang makna kultur sekolah sangat beragam. Ada yang berpendapat bahwa kultur sekolah itu berisi keyakinan, sikap, dan prilaku. Pendapat lain mengungkapkan bahwa kultur sekolah itu terdiri dari harapan-harapan, nilai-nilai dan pola-pola yang dibagikan yang mendefinisikan siapa kita dan bagaimana kita memperlakukan satu dengan yang lain dan bagaimana kita melakukan pekerjaan/karya/perbuatan kita. Kultur sekolah merupakan sebuah daya yang bertenaga, yang mampu mempengaruhi bagaimana orang berfikir, merasa, berkeyakinan dan bertindak atau bekerja.

Dengan demikian, pendidikan berbasis kultur sisekolah bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran atau pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran atau pendidikan yang dapat menolong setiap individu bertumbuh dewasa dalam keyakinan, lingkungan, sebab kultur itu  merupakan cerminan cara berfikir dan bekerja dan juga bentuk sesungguhnya dari prilaku makhluk tuhan.[5] Mendidik karakter berbasis kultur sekolah tidak hanya soal dalam hal aturan-aturan sekolah atau hal-hal yang biasa dilakukan secara terjadwal/terencana. Mendidik karakter siswa melalui basis kultur di sekolah berarti mendidik keyakinan, sikap, perbuatan, yang nantinya akan mengembangkan manusia-manusia yang berbudaya.

1.      Implementasi Pendidikan Karakter berbasis Kultur Sekolah

Ketika kebudayaan menjadi bagian penting, selain pendidikan dan pengajaran, dalam lembaga pendidikan tau sekolah, maka pada saat itu juga sekolah menjadi sebuah lembaga kebudayaan, sebagai sebuah alat transmisi kebudayaan, sekolah menjadi sebuah komunitas budaya. Kondisi menjadi satu hal yang dibutuhkan ketika pendidikan karakter berbasis kultur sekolah ingin diimplementasikan. Menurut Character Education Partnership ada tiga kondisi dasar yang diyakini mampu meningkatkan kultur sekolah, yaitu:

a.       Sekolah membuthkan ukuran-ukuran keberhasilan dan wilayah-wilayah untuk kemajuan yang melampaui batas-batas nilai sebuah tes.

b.      Sebuah pemahaman komprehensif tentang kultur sekolah semestinya dimiliki oleh setiap guru.

c.       Sekolah membutuhkan media atau sarana untuk membangun dan menilai kultur sekolah, dan harus akuntabel untuk kepentingan kuktur sekolah.

selain kondisi dasar yang dibutuhkan, proses merupakan salah satu fokus dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Dalam tulisannya, Cece Rahmat mengatakan bahwa ada beberapa proses yang dilakukan sekolah sebagai lembaga yang memiliki misi kebudayaan, yaitu:

1.      Pewarisan kebudayaan.

2.      Membantu individu memilih peran social dan mengajari untuk melakukan peran tersebut.

3.      Memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkuup kebudayaan yang lebih luas.

4.      Harus menjadi sumber inovasi sosial.

2.      Jenis-Jenis Kultur Sekolah

Beberapa ahli membedakan jenis kultur sekolah yaitu kultur sekolah yang individualistis dan kolaboratif. Kultur individualistis terbentuk setelah bertahun-tahun mengajar dalam keterpisahan antara guru yang satu dengan guru yang lain, dan sekolah yang penuh yang asing satu dengna yang lain. Tidak ada relasi yang terbangun antara guru dengan guru yang lain. Kultur ini memiliki pandangan konservatif dan selalu menolak perubahan dan inovasi. Sedangkan kultur kolaborasi menganggap bahwa mengajar bukannlah suatu yang mudah dan guru baik tidak pernah berhenti untuk belajar mengajar. Kultur kolaborasi ini memiliki keyanikan akan terjadinya perubahan dan lebih mengedepankan inovasi. Dalam perspektif kultur ini, memberi dan menerima bantuan dipandang sebagai hal positif, dan bukan sebagai sebuah kelemahan.

Selain itu, kultur yang terbentuk di sekolah yaitu kultur positif dan kultur toxic. Disebut kultur positif sebuah sekolah ketika seluruh warga sekolah merasakan kenyamanan, positif dan penuh keyakinan serta harapan.  Sebaliknya dalam kultur Toxic, sekolah biasanya terbentuk serta ditemukan dalam suasana depresi dan frustasi, baik guru maupun warga sekolah lainnya tidak yakin serta tidak dapat membawa perubahan serta tidak membawa peningkatan sekolah ke level yang lebih tinggi, saling menyalahkan dan sebagainya. Bila dikaitkan dengan pemahaman kultur sekolah, maka ada tiga kultur sekolah yaitu kultur efikasi, (misalnya pengalaman keahlian, pengalaman delegasi, persuai sosial dan bangunan emosional), kultur percaya, yang pertama kali dalam kultur percaya ini adalah para guru harus percaya kepada kepada kepala sekolahnya, dan terakhir yaitu kultur akademis, otimisme merupakan payung yang menyatukan efikasi dan  percaya dengan tekanan akademis. Dengan demikian, kultur positif serta kultur kolaborasi bersinergi dengan kultur efikasi, kultur trust/percaya dan optimisme akan menghasilkan sebuah kultur sekolah yang mempu mengimplementasikan pendidikan karakter.[6]

 

3.      Peran Pendidik dalam Pendidikan Berbasis Kultur di Sekolah

Secara umumdiketahui bahwa orangtua merupakan pendidik karakter, termasuk kultur yang pertama dalam diri seorang anak. Namun perlu diakui bahwa keluarga membutuhkan lembaga pendidikan, dan lembaga pendidikan membuthkan keluarga dalam melaksanakan visi dan misinya. Lembaga di sekolah merupakan perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga. Keduanya saling mengisi untuk mendidik generasi penerus miliki kultur yang baik. Betul bahwa pendidikan karakter di sekolah merupakan tanggungjawab seluruh warga sekolah. Setiap warga disekolah tidak terlepas dari kultur sekolah itu sendiri sekaligus mempengaruhi dalam membangun kultur sekolah. Namun, tanggungjawab yang lebih besar berada di kepala sekolah dan guru.

Kepala sekolah merupakan sosok yang berperan menjadi model dalam membangun kultur sekolah. Kepala sekolah berperan mengkomunikasikan nilai-nilai inti yang berlaku dalam pekerjaan setiap hari. Para guru berperan memperkuat nilai-nilai tersebut dalam tindakan-tindakan dan kata-kata. Bahkan para guru seperti kebanyakan organisasi lainnya, menyelasarkan keyakinan dan prilaku selaras dengan struktur, kebijakan dan tradisi di lingkungan sekolah.

 

D.    Pendidikan karakter Berbasis Komunitas

Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak, baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Lembaga pendidikan atau sekolah adalah salah satu tempat dimana anak didik untuk mengembangkan karakter yang baik di dalam dirinya. Artinya, pengembangan karakter anak tidak cukup dititikberatkan pada satu bagian saja, namun juga secara menyeluruh. Disinilah pendidikan berbasis komunitas diperlukan.

Komunitas adalah suatu ruang lingkup yang penting bagi anak untuk dapat bertumbuh dan mempelajari lingkungan sekitarnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interst atau values. Untuk menumbuhkan karakter yang baik, anak haruslah berada dilingkungan atau komunitas yang baik pula. Artinya interst dan values yang dimiliki setiap komunitas haruslah mendukung dan menjunjung perkembangan karakter yang baik dan sesuai dengan wahyu kitab suci agama, falsafah negara, maupun berbasis kekayaan nilai kearifan lokal.

Pendidikan berbasis komunitas tidak hanya melibatkan keluarga dan sekolah namun juga komunitas-komunitas lain yang ada di lingkungan sekitar anak. Anak dapat belajar langsung melalui kehidupan baik melalui alam maupun kehidupan sosial yang ada di sekitarnya. Anak tidak hanya belajar teori, namun juga mengalami langsung, baik melalui flield trip dan belajar bersama dengan anak-anak dan keluarga lain. Dalam pendidikan berbasis komunitas ini keberhasilan yang didapat tidak hanya melulu mengenai subjek akademik, tetapi inti dari pendidikan itu sendiri adalah kemampuan personak melalui hubungan interpersonal dan pengembangan interpersonal, yang mana ini adalah bagian dari pengembangan karakter anak. Pendidikan berbasis komunitaslah yang mampu memfasilitasi anak dalam mengembangkan kemampuan interpersonalnya.

Komunitas masyarakat dapat menjadi kontributor bagi sekolah untuk memecahkan masalah disekitarnya khususnya terkait dengan akhlak peserta didik. Kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh keterlibatan orang-orang dalam, melainkan juga ditentukan oleh adanya keterlibatan orang-orang luar sekolah yaitu orang tua siswa dan komunitas karakter. Berikut ini ada enam langkah pengembangan desain pendidikan karakter berbasis komunitas yaitu :

1.      Prioritas keutamaan nilai

Prioritas nilai karakter yang dikembangkan sesuai dengan nilai utama karakter yang terdiri dari nilai religius, nasionalism, mandiri, gotong royong dan integritas.

2.      Tujuan

Tujuan yang dimaksud yaitu tujuan dari kegiatan program yang akandilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai karakter.

3.      Perilaku yang diharapan

Perilaku yang diharapkan yaitu tujuan dari kegiatan program yang akan dilakukan sesuai dengan pengembangan nilai-nilai karakter.

4.      Ruang bagi tindakan

Ruang tindakan terdiri dari tiga poin, yaitu pertama, bentuk kegiatan program kegiatan berbasis komunitas yang dapat dilakukan dengan misalnya seminar atau kegiatan rutin keorganisasian. Kedua, yaitu langkah kegiatan yang dapat dilakukan dengan mulai mendesain/merumuskan program berdasarkan permasalahan yang sedang dibutuhkan solusinya dan melaksanakan bentuk program kegiatan. Ketiga, yaitu metode yang digunakan dapat dilakukan dengan pemberian informasi mengenai program kegiatan, pembiasaan terstruktur dilingkungan komunitas itu sendiri. Keempat, sarana yang dibutuhkan dalam pengembangan program.

5.      Penilaian

Penilaian atau evaluasi digunakan untuk melihat sejauh mana keterlaksaan program yang sudah sesuai dengan tujuan program yang direncanakan.

6.      Refleksi

Refleksi fokus kepada pengalaman individual peserta program kegiatan berbasis komunitas.



[1] Aisyah, Pendidikan Karakter : Konsep dan Implementasinya, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2018), hlm. 13

[2]  Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 28.

[3] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 31.

[4] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 32, 2019, hlm 32.

[5] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah: Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 84.

[6] Harun D. Simarmata, Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah: Sebuah Pemahaman, (Jurnal Pendidikan Penabur, 2018) No 30, hlm 86.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM

  A.     Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan dalam bahasa Latin disebut   educare, secara konotatif bermakna melatih. Dalam dunia...